Setiap kali ia melintas, parfum maskulinnya berhembus di hidung ini. Wangi, lembut, dan rapi dengan penampilan khas anak band, musisi.
“Miss Ika, nanti akan ada campaign atau promosi dari tempat kursus musik ke kelas kelas ya. Miss Ika bisa minta murid-murid jeda sejenak sambil mereka promo dan bagikan brosur. Sekolah kita ada kerja sama,” kata Kepala Sekolah, Bu Wuri kepadaku.
Perkenalkan, aku Ika. Pengajar di sekolah swasta, wali kelas SD kelas 3. Usiaku 27 tahun, sudah matang untuk menikah seharusnya, namun belum ada jodohnya.
Murid-muridku memanggilku Miss Ika.
“Oh begitu, mau tawarin kursus musik ya,” tanyaku lagi.
“Iya, anak-anak mungkin ada yang sebagian orang tuanya maunya menggali bakat siswa di bidang musik. Mumpung ada kerja sama dengan kursus musik, sekolah kita dikasih kesempatan buat 2 kali free trial. Benefit buat mereka, ya bisa dapatkan siswa sebanyak mungkin,” ujar Bu Wuri.
Aku mengangguk dan mematuhi perintahnya. Sudah beberapa kali memang klien atau brand sebuah produk untuk promosi di kelas-kelas.
“Oke anak-anak, yang ini buat PR aja ya, sebentar lagi bakal ada tamu ke kelas kita, siapa yang mau belajar alat musikkkk?” tanyaku seraya berteriak kecil.
‘SAYAAAA!” jawab para siswa, khas mereka.
TOK TOK TOK!
“Permisi,” ujar seorang pria berkacamata, mirip Ardhito Pramono.
Kalau aku tebak, usianya mungkin 30an. Manis dan sopan di balik jaket denim hitam dan juga celana denim yang serasi. Rambutnya sedikit ikal, persis Ardhito Pramono.
Ia tak sendiri, ada temannya juga dengan tubuh gempal dan kepala botak. Mereka terlihat membawa tas cukup besar warna hitam.
“Oh iya, dengan mas-mas dari tempat kursus musik ya?” tanyaku sopan.
“Oh iya … betul Bu, eh … apa nih saya manggilnya,” kata pria mirip Ardhito itu kikuk sambil menggaruk kepala.
“Hehe, panggil Miss Ika aja. Ayo, ayo silakan. Ini para siswa sudah gak sabar mau belajar musik,” sahutku tersipu.
“Ah terima kasih Miss Ika,” katanya tersenyum seraya menatapku lama beberapa detik hingga membuatku menunduk malu.
Lalu aku dan mereka berdua berdiri di depan kelas menghadap ke arah para siswa.
Ia lantas memperkenalkan diri, sedangkan temannya sibuk membuka tas.
“Oh ya, sampai lupa. Saya dengan Waway. Saya mengajar drum, yaa drummer lah. Saya biasa mengajar setiap siang dan sore. Siswanya banyak anak-anak SD atau SMP,” kata sang drummer manis itu.
“Ahhh drummer. Keren yaaa, bisa main musik. Saya cuma bisa nyanyi aja,” ungkapku mencoba akrab.
“Oh ya? Keren sih kalau guru bisa nyanyi, memang sudah seharusnya. Jadi kalau ada pelajaran seni dan budaya, gurunya bisa menyanyi di depan siswa,” katanya lagi dengan menatapku berjarak 15 centimeter.
Aroma parfumnya sungguh maskulin, dia benar-benar keren, khas musisi.
“Oh ini teman saya. Denny. Dia ini biasa mengajar gitar melody,” kata Waway memperkenalkan temannya.
“Halo Miss Ika, saya Denny. Ini kelas 3 SD ya? Ya seusia anak saya,” kata Denny mengumumkan kalau dirinya sudah punya anak.
“Oh ya? Wahhh sekolah di mana?” ungkapku menyambut hangat seraya menunggu mereka menyiapkan alat musik untuk diset.
“Oh sekolah di sekolah islam. Anak saya dua miss, yang satu masih bayi,” ucap Denny ramah.
“Oh begitu, kalau Mas Waway juga anaknya sudah sekolah? Enak pasti kalau mau belajar musik tinggal diajarin Papanya,” ujarku tersenyum di balik lipstik pink nude glossy yang kupakai pagi ini.
“HAHAHAHA! WAWAY NIH SIBUK MENABUH DRUM TERUS MISS! MENABUH HATINYA KAPAN? GAK KAWIN-KAWIN,” goda Denny seraya menyikut lengan Waway.
“Ah sial! Apaan sih, depan bocil bocil woy. Depan guru pula. Aduh maaf lho Miss,” kata Waway canggung.
Aku pun tersipu melihat tingkah mereka seraya mengangguk-angguk.
“Oh begitu, hahaha. Iya iya,” jawabku tak banyak kata-kata.
“Iya ini si Waway lagi cari calon istri. Kalau Miss Ika, sudah menikah? Anaknya berapa?” tanya Denny lagi.
IYA NIH SI WAWAY LAGI CARI CALON ISTRI!
Aku menatap Waway seraya menahan senyum, dan kemudian menggeleng pelan.
“Ah belum, sama seperti Mas Waway, belum ada anak juga, belum berumah tangga,” jawabku malu-malu.
“AYO DONG KAPAN MAIN MUSIKNYAA?”
Para siswa sudah berteriak tak sabar memecah obrolan ngalor ngidul kami bertiga.
Aneh, niat tampil demo musik tapi malah ngobrol soal jodoh, asmara, anak, dan keluarga. Ada-ada saja.
Aku dan Waway mencoba bersikap biasa-biasa lagi seraya menunggu mereka siap untuk tampil.
Bangku kosong di depan pandanganku membuat langkahku menuju ke situ.
Ada siswa yang tak masuk, sehingga bangku kosong itu menjadi tempatku melihat Waway dan Denny memperkenalkan diri.
“Hallo adik-adik, kami dari kursus musik Yesmaha. Saya Waway, dan ini Denny. Siapa di sini yang suka main musik atau bisa main musik?” tanya Waway dengan hangat.
Aduh, kenapa ya hati ini berdesir rasanya begitu ia melintas di lorong bangku para siswa. Sesekali matanya menoleh ke arahku dan aku hanya membalas senyum simpul.
“SAYA BISA MAIN SULING KAK,” teriak salah satu siswa.
“SAYA BISA MAIN PIANIKA,” teriak yang lain.
“OH YA? YANG BISA MAIN DRUM ATAU GITAR, ADA GAK?” tanya Waway lagi sambil melirik lagi ke arahku.
Ini kali pertama aku melihat seorang musisi begitu hangat dan dekat dengan anak-anak. Rasanya, aku langsung nyambung ngobrol dan sudah kenal lama.
“OKE KALAU BEGITU, GAK USAH PANJANG LEBAR. KAKAK BERDUA MAU DEMO NIH! BUKAN DEMO MASAK YA, HEHEHE. MAU COBA MAIN MUSIK DI DEPAN KALIAN. BOLEH GAK? BOLEH GAK MISS IKA?” tanya dia dengan nada menggoda.
“BOLEHHHH,” jawab para siswa antusias.
“Boleh dong silakan mas,” ujarku tersenyum menunggu permainan mereka.
BRAK! DUM! TAK! DUM-DUM-DUM!
JRENGGG! JREENG!
Ya ampun, semakin bergetar hati ini melihat mereka bermain musik, terutama Waway, karena lengannya begitu terampil menabuh drum. Drum yang ditabuh, mengapa hatiku yang bergetar?
PROK PROK PROK!
“Kerennnn,” kata para siswa bertepuk tangan dengan mata berbinar.
Waway lantas berdiri dan menghadap ke arahku setelah selesai bermain drum. Denny bertugas memasukkan alat-alat musik ke dalam tas.
“Mas Waway, keren lho. Anak-anak kelihatan banget happy,” ucapku dengan wajah merona.
“Ah Miss Ika bisa aja! Ya memang ini sehari-hari kami seperti ini. Mengajar, main musik, ya udah makanan hari-hari. Saya dengan Denny juga biasa ngeband sih kalau weekend,” kata dia ramah.
“Oh ya? Ngeband juga? Di mana mas?” tanyaku penasaran.
“Di Bogor. Saya kebetulan tinggal di Bogor kota, Denny di Sentul. Yaa anak Bogor lah. Makanya, jangan panggil Mas dong, Waway aja,” katanya ramah.
Duh, ini jantung mengapa tak bisa berhenti berdegup.
“Hehehe, panggil akang atau aa nih? Atau Mamang,” tanyaku menggoda kecil.
“Hahaha! Apa aja Miss. Saya izin bagikan brosur ya,” kata Waway seraya berkeliling meja para siswa.
Setiap kali ia melintas, parfum maskulinnya berhembus di hidung ini. Wangi, lembut, dan rapi dengan penampilan khas anak band, musisi.
Ada apa denganku hari ini?
Rasanya, ingin kenal Waway lebih jauh dibanding sekadar demo di kelasku.







