“Aku tahu risiko jatuh cinta adalah rasa sakit. Tapi aku nggak pernah tahu kalau sakitnya bisa seperti ini.”

Hari Sabtu berjalan seperti biasa.

Aku terbangun ketika jarum jam sudah menunjuk pukul sepuluh pagi. Cahaya matahari menerobos celah tirai kamar, jatuh di lantai dan membuat debu-debu kecil menari di udara.

Tak ada yang istimewa pagi itu.

Aku memanaskan air, lalu menyeduh kopi saset sisa begadang semalam. Sambil menyeruput kopi yang masih panas, tanganku meraih ponsel di atas meja.

Satu per satu pesan kubaca.

Ada pesan dari teman, grup pekerjaan, sampai pesan dari perempuan yang sudah empat bulan terakhir mengisi hari-hariku.

Pacarku.

Pesannya singkat.

Ia memintaku datang ke rumahnya sore nanti. Ada satu permintaan yang menurutku agak aneh.

Ia ingin aku membawakan buah nanas.

Aku hanya tersenyum kecil membaca pesan itu.

Nanas?

Aku tidak terlalu memikirkannya. Kukira ia sedang ingin makan sesuatu yang segar.

“Siap,” balasku singkat.

Menjelang sore, aku keluar rumah. Di depan gang, ada penjual rujak buah langgananku. Daripada membeli nanas utuh, aku memilih membeli sebungkus rujak.

“Nanasnya yang banyak, Bang,” pesanku.

Entah kenapa, saat itu aku justru merasa senang. Hal-hal kecil semacam membawakan makanan kesukaan pacar terasa seperti bagian dari persiapan menuju sesuatu yang lebih serius.

Aku memang sudah mulai membayangkan masa depan bersamanya.

Bukan sekadar pacaran.

Aku ingin menikahinya.

Pukul lima sore, aku tiba di rumahnya.

Aku duduk di kursi teras sambil menunggu ia keluar. Rumah itu tampak sepi. Biasanya ada suara televisi atau suara ibunya dari dalam rumah.

Tak lama kemudian, pintu terbuka.

Ia keluar.

Namun, ada sesuatu yang berbeda.

Rambutnya tampak kusut. Matanya sembab seperti baru saja menangis lama. Wajahnya pucat dan ia bahkan tidak berani menatapku.

Aku langsung merasa tidak nyaman.

“Kamu kenapa?”

Ia tidak menjawab.

Aku meletakkan sebungkus rujak di atas meja, kemudian membukanya.

“Aku beli rujak aja jadinya. Tapi nanasnya banyak, kok.”

Tidak ada respons.

“Ayo dimakan. Kan kamu yang minta nanas.”

Ia tetap diam.

Aku mulai memperhatikan rumahnya yang sepi.

“Ibu sama bapak ke mana?”

“Lagi kondangan,” jawabnya pendek.

Kepalanya kembali tertunduk.

Aku menatapnya lebih lama.

“Kamu sebenarnya kenapa?”

Ia menarik napas dalam-dalam.

Kemudian, dengan suara yang bergetar, ia berkata,

“Aku mau cerita sesuatu sama kamu.”

“Cerita aja.”

Ia kembali diam.

Tangannya saling menggenggam. Jari-jarinya terlihat gemetar.

“Kamu sakit?”

Ia menggeleng.

“Aku telat dua bulan.”

Aku masih belum mengerti.

“Mens kamu lagi nggak lancar?”

Ia mengangkat wajahnya. Matanya kembali berkaca-kaca.

“Nggak, Tyo.”

Suaranya pecah.

“Aku hamil.”

Dunia seperti berhenti sesaat.

Aku tidak langsung memahami kalimat itu.

Hamil.

Satu kata itu berputar-putar di kepalaku.

“Apa?”

Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Tangisnya pecah.

Aku terpaku di kursi.

Tubuhku mendadak terasa dingin. Pikiranku berantakan. Ada rasa sesak yang perlahan memenuhi dada.

“Aku udah tespek,” katanya di sela tangis. “Hasilnya positif.”

Aku berdiri.

“Kamu tahu, kan, kita nggak pernah…”

“Bukan sama kamu, Tyo.”

Kalimat itu membuatku terdiam.

“Terus sama siapa?”

Ia tidak menjawab.

Aku mencoba tertawa, meski rasanya hambar.

“Sama siapa? Genderuwo?”

Ia justru semakin menangis.

“Maaf, Tyo.”

Aku menatapnya.

“Kamu nggak salah. Kamu pria baik.”

Kalimat itu justru terasa lebih menyakitkan.

“Sama siapa?”

Ia menarik napas panjang.

“Mantan aku.”

Aku membeku.

“Randy?”

Ia mengangguk pelan.

Untuk kedua kalinya sore itu, rasanya seperti ada sesuatu yang menghantam tubuhku.

Bedanya, kali ini aku tidak tahu bagaimana caranya bangkit.

Aku menatap perempuan yang selama empat bulan kuanggap sebagai calon istriku.

Ternyata, di balik hubungan kami, ada cerita yang tidak pernah kuketahui.

“Jadi selama ini…”

Aku tidak sanggup menyelesaikan kalimatku.

Ia hanya menangis.

Aku menunjuk sebungkus rujak di atas meja.

“Terus kenapa kamu minta aku bawakan nanas?”

Ia mengusap air matanya.

“Aku takut.”

“Takut apa?”

“Aku sempat membaca banyak hal di internet. Katanya nanas bisa menggugurkan kandungan yang masih sangat muda.”

Aku terdiam.

Ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan, tetapi semuanya seperti tersangkut di tenggorokan.

Aku tahu, masalah sebesar ini tidak mungkin selesai dengan sebungkus rujak atau sesuatu yang dipercaya dari cerita orang.

Aku menghela napas panjang.

“Jangan lakukan sesuatu yang bisa membahayakan dirimu.”

Ia menatapku.

“Lalu aku harus bagaimana?”

Pertanyaan itu sederhana.

Tapi aku sendiri tidak punya jawaban yang mudah.

Aku menatap lantai beberapa detik sebelum akhirnya berkata,

“Kalau memang Randy adalah ayah dari anak itu, selesaikan masalah kalian dengan cara yang bertanggung jawab.”

Ia menangis lagi.

“Menikahlah dengannya.”

“Maaf, Tyo.”

Aku tersenyum getir.

“Aku tahu risiko jatuh cinta adalah rasa sakit. Tapi aku nggak pernah tahu kalau sakitnya bisa seperti ini.”

Ia terus menatapku.

Aku berdiri dan mengambil langkah menuju pagar.

“Kalau nanti kamu menikah dengannya, jangan undang aku.”

“Tyo…”

“Aku pulang.”

Aku berhenti sebentar tanpa menoleh.

“Jangan pernah mencariku lagi, apa pun yang terjadi. Urus saja hidupmu. Biar sakitku menjadi urusanku.”

Aku membuka pagar.

Baru beberapa langkah meninggalkan rumahnya, air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga.

Aku tidak menoleh.

Di belakangku, suara terakhir yang kudengar hanyalah satu kalimat.

“Maaf, Tyo.”

Aku terus berjalan.

Sore itu, aku pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berat daripada sebungkus rujak.

Bukan buah nanas yang kubawa pulang.

Melainkan sebuah kenyataan bahwa perempuan yang ingin kujadikan istri ternyata akan menjadi masa lalu.

https://cerpenkita.id/gairah-pelukis-cinta-bab-i-kayaknya-kita-setipe/

Rakai Daniswara

Pria sederhana yang memiliki pemikiran rumit. Ide-idenya melebihi kapasitas kepalanya.

Bagikan:

Tags: