“Wah cocok dong! Kayaknya kita Setipe deh!” ujar sang pelukis hati itu.

Drrrrttt!

Sebuah notifikasi masuk ke ponselku. 

Ya, sudah sepekan ini aku ikut ajang pencarian jodoh di aplikasi kencan. 

Sudah seputus asa itu, di saat usiaku sudah beranjak kepala 3. 

Sudah sebulan aku berharap bertemu pria yang cocok, namun begitu aku melihat foto dan profilnya, tak ada yang sreg. 

Hingga siang itu, di kantin kantor saat sedang bersama teman-teman, aku menyeruput teh manis seraya menatap ponsel. 

Cukup terkejut, karena foto profil terlihat wajah pria manis seperti aktor Ibnu Jamil.

Ia mengenakan flanel dan kaus dalam warna abu-abu dengan celana jeans. Begitu masuk dengan tipe pria idaman dari segi tampang. 

Kubuka profilnya, rupanya profesinya sebagai seniman dan desainer. 

Rasanya, cocok dengan bidangku di dunia industri kreatif di dunia periklanan. 

“Hei, aku Okan,” tulisnya dalam satu kalimat singkat. 

“Hehe, aku tahu kok. Kan memang nama kamu tertulis demikian di aplikasi. Kenapa harus perkenalkan diri lagi,” tulisku seraya membubuhkan emoji senyum. 

“Hahahaha! Salam kenal ya. Ya, namanya juga kenalan dengan wanita manis seperti kamu, harus sopan dong. Tetap perkenalkan nama,” balasnya lagi. 

Dari kalimat itu saja, sudah membuatku tersenyum di tahap awal. Pria ini berbeda, sudah menunjukkan rasa sopan santun. 

“Ah tahu dari mana aku manis?” balasku lagi seraya genit. 

“Hehehe, itu dari foto profilnya dong. Aku intip nih,” katanya lagi. 

Ada 3 foto yang aku bubuhkan di aplikasi itu. Foto sedang selfie di pantai, foto sedang di meja kantor, dan foto di coffeeshop.

Sedangkan dia, ada 2 foto. 

Foto pertama foto profil saat ia mengenakan flanel, foto kedua saat ia sedang melukis mural. 

“Hehe, bisa aja kamu. Aku Icha. Ikutan deh, perkenalkan nama. Pelukis mas?” sahutku semakin penasaran. 

Saking asyiknya, sampai lupa kalau teh manis itu sudah habis. Masih saja aku sedot meski tak ada airnya. 

“BYE ICHA! KITA DULUAN YA,” kata teman-temanku meninggalkanku sendirian di kantin. 

Aku masih sibuk dengan ponselku, duniaku, dan aplikasi kencan. 

“Iya nih, pelukis dan desainer. Yaaa, memang sesuai background kuliah sih,” jawabnya lagi. 

“Oh ya? Memang kuliah di mana? Hemm, ini kamu di Bandung ya? Dari jarak dan kota lokasinya sih di Bandung,” jawabku seraya bertopang dagu asyik melihat layar. 

“Kuliah di Bandung, di kampus negeri sini jurusan seni dan desain. Yaa, jadinya memang sesuai passion deh. Habis lulus, aku ikut rumah seni gitu, kadang kerja sama klien atau produk, untuk melukis dan desain sesuai kebutuhan mereka,” sahutnya lagi. 

Wah, aku paling suka dengan pria nyambung dan cerdas. Sejak tadi, aku merasa pria ini benar-benar cocok dengan duniaku. 

“Ahhh, keren banget? Produk? Iklan? Misalnya kayak gimana tuh,” jawabku lagi. 

“Iya, misalnya ada brand cat tembok. Mereka minta campaign untuk mural di sudut-sudut kota. Aku diminta desain dan melukis di instalasi yang mereka sediakan, lalu sambil campaign warna cat. Atau, misalnya ada label fashion batik atau tenun, aku bisa ikutan bikin instalasi lukisan lukisan kalau ada pameran. Yaa semacam itu lah,” katanya lagi. 

Aduh! Mati lah aku ini!

Baru juga obrolan pertama, sudah mengalir seperti ini. 

Tak terasa, sudah satu jam kami berbincang online. Sejenak aku hampir lupa kalau masih banyak tumpukan pekerjaan. 

“Keren banget! Pengen deh bisa melukis atau desain, tapi yaa, dari kecil bisanya lukis gunung atau pemandangan aja. Hehehehe,” jawabku bercanda. 

“Hahahaha! Gambar andalan banget yaaa. Kalau kamu, kerja di mana? Di Jakarta mananya nih,” katanya lagi seraya melihat profilku memang berada di Jakarta. 

“Hehe, sebenernya sama-sama industri kreatif sih. Aku di periklanan. Jadi lebih ke digital marketing sih, kadang-kadang juga bantu klien untuk ketemu sama media, atau B to B, atau B to G. Ya sama, background pendidikan juga ilmu komunikasi. Jadi masih nyambung. Hehehe,” ucapku lagi. 

“Wah cocok dong! Kayaknya kita Setipe deh,” katanya genit seraya mengirim emoji mengedipkan mata. 

COCOK! KAYAKNYA KITA SETIPE!

“Hahaha! Gitu ya… Tapi emang gak berasa lho, kok enak banget sih chat sama kamu,” ungkapku mesem-mesem. 

“Ini baru di chat, belum lagi kalau ketemu orangnya langsung,” jawabnya semakin merayu. 

HAHAHAHA!

Duh! Baru kenalan di awal saja, sudah bisa bikin hatiku semringah. Apalagi dia kemudian mengirimkan pap suasana studio lukisnya. 

“Ohhh itu di ruang seni studio kamu ya,” ucapku lagi. 

“Masih kerja sama seniman senior sih. Bukan studio aku. Ya doain aja, semoga bisa punya studio sendiri. Kalau kamu, masih di kantor?” tanya dia lagi. 

“Hehe, masih nih,” sahutku. 

JEPRET!

Aku mengirim foto suasana kantin kepadanya. Dan juga mangkuk mie ayam serta teh manis yang sudah ludes tak bersisa. 

“Wahhh! Lagi di kantin kantor ya! Udah kenyang dong? Beda sih ya anak kantoran. Kalau aku kan lebih bebas, tergantung project. Kalau lagi gak ada kesibukan, ya di studio aja,” katanya tersenyum lagi. 

“Hehe, yaaa tetap aja budak corporate mas! Sama aja! Hehehe. Btw, kamu Bandung mananya nih,” ucapku ingin tahu. 

“Aku di Buah Batu nih. Pernah ke sini kan?” katanya lagi. 

“Ya sering dong, kalau healing pasti gak jauh-jauh ke Bandung. Kamu sering ke Jakarta?” balasku. 

“Sering juga, kalau ada klien di sana, bisa-bisa aku menginap seminggu atau menetap lah sementara. Tapi kalau gak ada klien, ya di sini. Main dong ke Bandung,” katanya tersenyum. 

“Ih masa cewek duluan sih yang main. Kamu dehhh, aku tunggu di Jakarta,” jawabku tersipu dengan emoji senyum merona. 

“Hahaha! Emangnya gak boleh ya cewek duluan yang nyusulin,” sahutnya lagi. 

“Hehehe, ya gak gitu sih. Tapiii … kalau kamu duluan, kayaknya lebih sesuai kodrat aja,” ungkapku tertawa. 

“HAHAHA! Kodrat segala kamu tuh …”

Tak terasa, dua jam sudah. Sampai akhirnya aku harus pamit duluan karena harus melanjutkan pekerjaan. 

“Eh iya, aku panggilnya akang atau apa nih? Kan Sunda. Hehehe. Aku duluan ya, nanti disambung lagi. Takut ada bos. Maklum, bos aku cewek, suka galak. Hehehe,” ucapku menyudahi obrolan. 

“Panggil nama aja, Okan,” ucapnya. 

“Ah gak enak ah. Aku panggil Kang Okan aja ya,” sahutku lagi, 

“Iyaaa boleh. Nanti malam aku chat lagi, boleh?” tanyanya sopan. 

Duh, seandainya hari ini gak kerja, aku bisa chat sampai lupa waktu. Dia benar-benar nyambung dan kami seolah sudah kenal lama. 

“Boleh kok,” jawabku. 

“Chat sama kamu asyik, kayaknya kita bakal nyambung nih soalnya setipe. Sampai nanti malam ya,” tuturnya dengan emoji bye bye. 

Aduh, rasanya siang itu teh manis terasa lebih manis dari yang biasa kuminum. 

Aku bergegas kembali ke mejaku dengan hati yang semringah dan tersenyum lebar karena kehadiran Okan yang tiba-tiba menjadi notifikasi di hati ini.

Miss Vee

Sosok penulis yang tertantang menuangkan ide dan pikiran lewat karya literasi. Cerita fiksi itu berujung novel adult romance sebagai andalannya

Bagikan:

Tags: