Beberapa hari setelah pertemuan pertama itu, kami kembali dipertemukan. Siang itu aku sedang melangkah menuju perpustakaan ketika melihat Laras berjalan dari arah berlawanan. Ritme langkahnya masih sama—tenang dan anggun. Namun, ada yang berbeda: raut wajahnya tampak muram, seperti menyimpan beban.
Melihat raut itu, entah dari mana datangnya keberanian, aku memutuskan untuk menyapanya.
“Laras, kan?” tanyaku memberanikan diri.
Laras menghentikan langkah. Senyum tipis terukir di bibirnya. “Iya… kok tahu namaku?”
“Tahu, dong. Siapa, sih, yang tidak kenal kamu di kampus ini?” jawabku, mencoba sedikit berseloroh.
Sayang, jawaban itu sepertinya salah. Senyum tipis itu perlahan memudar. Raut wajahnya mengeras dingin, seolah menyiratkan keinginan untuk menyudahi interaksi ini sesegera mungkin.
“Aku ke kelas dulu, ya,” pamitnya terburu-buru tanpa menunggu tanggapanku lebih jauh.
“Oke, Laras.”
Obrolan singkat yang kaku dan mengambang. Namun, bagi pria sepertiku, menyapa Laras sudah meninggalkan kesan manis yang membekas.
Rasa penasaran pun mulai menggerogoti. Aku harus mencari tahu lebih banyak tentangnya.
Pukul tiga sore, aku keluar menuju warkop di samping kampus—markas tak resmi tempat teman-teman sejawat biasa menghabiskan waktu.
Di antara asap rokok dan dering cangkir kopi, aku melihat Ridwan sedang bersantai. Tanpa membuang waktu, aku menghampirinya.
“Wan, kamu tahu Laras yang waktu itu kan?” tanyaku langsung pada inti permasalahan.
Ridwan terkekeh pelan, matanya menatapku jahil. “Kenapa? Demen, kamu?”
Aku tak menggubris leluconnya dan memilih memotong pembicaraan. “Dia sudah punya pacar belum, sih?”
“Sudah!” jawab Ridwan mantap.
“Pacarnya teman sekelasnya sendiri, namanya Aziz.”
Sentakan kecil mampir di dada, tapi Ridwan belum selesai bicara.
“Kebetulan Aziz itu temannya cewekku,” tambahnya santai.
“Oh… sudah punya cowok, toh,” sahutku pendek, mencoba menetralkan nada suara meski ada rasa kecewa yang mendadak menyusup.
“Sudah. Pinter lagi cowoknya. Kamu kalah jauh, deh!” timpal Ridwan tanpa simpati.
Kekecewaan itu rupanya tergambar jelas di wajahku. Ridwan yang menyadarinya langsung merangkul pundakku, mencoba mencairkan suasana yang mendadak muram.
“Sudahlah! Sebelum bendera kuning berkibar, hajar terus, Jon!” kata Ridwan menyemangatiku dengan istilah yang salah kaprah.
Aku menatapnya datar. “Janur kuning kali.”
“Kalau janur kuning mah masih bisa cerai! Masih ada harapan kamu dapat jandanya,” gelak Ridwan pecah. “Nah, kalau bendera kuning… mau nikahin mayat, kamu?”
Part 1》https://cerpenkita.id/jodoh-di-jam-5-sore-bab-i-pertemuan/







