Cinta bukan tentang memiliki seseorang sepenuhnya. Cinta adalah tentang memberi ruang kepada seseorang untuk memilih.

SUDAH lebih dari tiga bulan sejak aku lulus kuliah.

Dan lebih dari tiga bulan pula aku menjalani kehidupan baru sebagai seorang pekerja.

Aku diterima di sebuah perusahaan dan ditempatkan di bagian kreatif. Pekerjaan yang cukup sesuai dengan apa yang selama ini aku sukai.

Hari-hariku mulai dipenuhi kesibukan.

Rapat.

Membuat konsep.

Mengejar tenggat pekerjaan.

Kadang pulang lebih malam dari yang kuharapkan.

Tapi setiap kali menerima gaji, ada satu hal yang selalu membuatku tersenyum.

Aku berhasil.

Dulu aku hanya seorang mahasiswa yang membagi waktu antara kuliah dan menjadi pengemudi ojek online.

Sekarang aku sudah memiliki pekerjaan tetap.

Aku bisa berdiri dengan kakiku sendiri.

Dan mungkin…

sudah waktunya aku menepati janji.

Janji kepada Widya.

Aku mencoba menghubungi nomor lamanya.

Tidak aktif.

Aku mencoba lagi.

Tetap sama.

Mungkin Widya sudah mengganti nomor teleponnya.

Aku tidak tahu.

Aku juga tidak tahu apakah dia masih mengingatku.

Kami sudah lama tidak berkomunikasi.

Tapi satu hal yang aku tahu…

aku pernah berjanji akan datang ke Surabaya.

Dan janji itu harus kutepati.

Minggu malam, setelah mempersiapkan beberapa pakaian dan barang seperlunya, aku berangkat menuju Stasiun Gambir.

Kereta malam membawaku meninggalkan Jakarta.

Sepanjang perjalanan, aku lebih banyak diam.

Sesekali aku melihat keluar jendela.

Lampu-lampu kota berganti menjadi gelapnya malam.

Aku mencoba tidur, tetapi sulit.

Pikiranku hanya tertuju pada satu nama.

Widya.

Entah bagaimana pertemuan kami nanti.

Entah apakah dia masih sendiri.

Entah apakah hatinya masih menyimpan tempat untukku.

Atau mungkin…

dia sudah menemukan seseorang yang lain.

Aku menarik napas panjang.

Apa pun jawabannya, aku harus siap.

Aku datang bukan untuk memaksa.

Aku datang untuk menepati janji.

Senin sekitar pukul dua belas siang, kereta akhirnya tiba di Surabaya.

Begitu turun dari kereta, udara Surabaya langsung menyambutku.

Aku berdiri sejenak sambil menarik napas.

“Surabaya…”

Kota yang selama ini hanya kukenal dari cerita Widya.

Kota tempat seseorang yang selama ini kusimpan dalam hati menjalani hidupnya.

Aku tidak langsung menuju hotel.

Aku justru mengingat kembali cerita Widya beberapa waktu lalu tentang kampusnya.

Fakultasnya.

Gedungnya.

Dan beberapa tempat yang pernah dia ceritakan kepadaku.

Berbekal ingatan itu, aku memutuskan datang ke kampusnya.

Aku sendiri tidak tahu harus bertemu siapa.

Aku juga tidak tahu apakah Widya masih berada di kampus.

Aku hanya ingin mencoba.

Setidaknya sekali.

Aku akhirnya sampai di fakultas komunikasi.

Aku berjalan perlahan memasuki area kampus.

Rasanya aneh.

Tempat ini begitu dekat dengan cerita-cerita Widya selama ini.

Dulu aku hanya bisa membayangkannya ketika dia bercerita melalui telepon.

Sekarang aku benar-benar berada di sini.

Aku kemudian menemukan sebuah taman kecil.

Aku duduk di salah satu bangku.

Menunggu.

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kutunggu.

Mungkin keberuntungan.

Mungkin takdir.

Atau mungkin…

Widya.

Lima menit berlalu.

Sepuluh menit.

Sekitar lima belas menit aku duduk sendirian.

Sampai akhirnya aku melihat seseorang berjalan dari arah gedung fakultas.

Seorang perempuan.

Aku langsung mengenalinya.

Widya.

Jantungku berdegup lebih cepat.

Dia masih sama.

Atau mungkin justru semakin cantik.

Penampilannya sederhana. Tidak berlebihan. Rambutnya tertata rapi dengan pakaian yang terlihat santai.

Aku tersenyum kecil.

Namun senyum itu perlahan hilang.

Karena Widya tidak berjalan sendirian.

Di sampingnya ada seorang pria.

Mereka terlihat akrab.

Sesekali Widya tertawa kecil mendengar sesuatu yang dikatakan pria itu.

Aku terdiam.

Jarak kami mungkin hanya sekitar sepuluh meter.

Tapi tiba-tiba rasanya seperti ada jarak ribuan kilometer di antara kami.

Aku menundukkan kepala.

“Siapa dia?”

Pertanyaan itu muncul begitu saja.

Temannya?

Senior?

Atau…

pacarnya?

Aku menatap mereka lagi.

Entah kenapa dada ini terasa sesak.

Aku sadar, selama aku pergi dari kehidupan Widya, aku tidak tahu apa pun tentang hidupnya.

Aku yang memilih memutus komunikasi.

Aku yang memblokir nomor dan media sosialnya.

Aku yang meminta kami saling fokus pada kehidupan masing-masing.

Jadi kalau sekarang dia sudah bersama orang lain…

aku tidak berhak kecewa.

Aku mencoba meyakinkan diri sendiri.

“Mungkin aku terlambat.”

Aku berdiri.

Widya masih belum menyadari keberadaanku.

Wajar.

Aku sekarang sudah berbeda.

Kulitku tidak lagi segosong dulu akibat berjam-jam berada di jalan.

Aku mengenakan pakaian yang lebih rapi.

Rambutku tertata.

Penampilanku jauh lebih bersih dan terlihat seperti seseorang yang sudah memiliki pekerjaan tetap.

Aku tersenyum pahit.

Mungkin Widya memang tidak akan mengenaliku dari jauh.

Aku memutuskan pergi.

Tidak ada gunanya aku memaksakan pertemuan jika ternyata dia sudah menemukan kebahagiaan bersama orang lain.

Aku baru berjalan sekitar tiga langkah.

Lalu…

“Candra!”

Langkahku berhenti.

Suara itu.

Aku mengenalnya.

Aku perlahan menoleh.

Widya berdiri beberapa meter di belakangku.

Matanya menatapku.

Wajahnya menunjukkan keterkejutan.

“Candra?”

Aku tersenyum.

“Iya.”

Widya berjalan menghampiriku.

“Kamu?”

Aku hanya mengangguk.

“Kamu ngapain di sini?”

Aku tersenyum kecil.

“Datang.”

“Datang ke mana?”

“Surabaya.”

Widya tertawa kecil karena bingung.

“Aku tahu kamu datang ke Surabaya. Maksudku, kenapa nggak bilang dulu?”

Aku mengangkat bahu.

Widya menatapku beberapa detik.

“Tapi kenapa kamu berubah?”

Aku tertawa.

“Berubah bagaimana?”

“Kamu sekarang…”

Dia memperhatikanku dari atas sampai bawah.

“…beda.”

Aku tersenyum.

“Sudah lulus.”

Widya tersenyum.

Aku kemudian melirik ke sebelah kirinya.

Pria yang tadi bersamanya masih berdiri tidak jauh dari kami.

Widya mengikuti arah pandanganku.

Sepertinya dia langsung mengerti.

“Oh…”

Dia tersenyum.

Widya kemudian memperkenalkan pria itu.

“Ini Rafi. Teman kuliah aku.”

Aku mengangguk kepada pria tersebut.

“Halo.”

“Halo,” jawab Rafi sambil tersenyum.

Entah kenapa dadaku terasa lebih lega.

Teman.

Bukan pacar.

Ternyata sejak tadi pikiranku kembali membuat cerita sendiri.

Persis seperti dulu.

Aku hampir tertawa sendiri.

Ternyata kebiasaan buruk itu masih tersisa sedikit.

Widya kemudian mengajakku duduk di kantin kampus.

Rafi pamit karena ada urusan lain.

Kini tinggal kami berdua.

Setelah sekian lama…

akhirnya aku duduk berhadapan dengan Widya lagi.

“Kamu benar-benar datang.”

Widya membuka percakapan.

Aku mengangguk.

“Aku pernah janji.”

“Setahun lalu?”

“Kurang lebih.”

Widya tersenyum.

Aku menatap wajahnya.

Ada begitu banyak hal yang ingin kutanyakan.

Tapi aku tidak ingin terburu-buru.

“Aku lulus sekitar tiga bulan lalu,” kataku.

“Aku tahu.”

Aku terkejut.

“Kamu tahu?”

Widya tersenyum.

“Kadang aku masih lihat informasi kampusmu.”

Aku terdiam.

“Tapi aku nggak menghubungi kamu,” lanjutnya.

“Kenapa?”

“Kamu yang bilang kita harus fokus.”

Aku tersenyum.

“Benar juga.”

Aku kemudian bercerita tentang kehidupanku setelah lulus.

Tentang pekerjaanku.

Tentang bagaimana aku akhirnya diterima di sebuah perusahaan.

Tentang pekerjaanku di bagian kreatif.

Tentang hari-hari pertamaku menjadi seorang pekerja.

Widya mendengarkan semuanya.

Sesekali dia tersenyum.

Sampai akhirnya aku mengatakan sesuatu yang sejak tadi kusimpan.

“Sebetulnya ada alasan lain kenapa aku datang.”

Widya menatapku.

“Apa?”

Aku menarik napas.

“Karena kamu.”

Widya terdiam.

“Walaupun kita putus komunikasi selama ini, kamu tetap menjadi salah satu alasan aku terus maju.”

Aku menatap meja.

“Setiap kali capek kuliah, aku ingat janjiku.”

Aku tersenyum.

“Aku harus lulus.”

Aku mengangkat wajah.

“Aku harus punya pekerjaan.”

“Karena aku pernah bilang akan datang ke Surabaya setelah semuanya selesai.”

Widya terdiam cukup lama.

Kemudian dia tersenyum.

“Kamu masih ingat pesan terakhir kamu?”

Aku mengangguk.

“Tentang apa?”

Aku menatap matanya.

“Aku bilang, kamu jaga diri.”

Widya mengangguk.

“Dan jaga hati.”

Aku tersenyum.

“Iya.”

Widya menundukkan kepala sebentar.

Kemudian kembali menatapku.

“Aku masih ingat.”

Aku terdiam.

“Selama kita nggak berkomunikasi, aku selalu ingat pesan itu.”

Dadaku terasa berdebar.

“Aku juga menjaga hati.”

Aku tidak mampu berkata-kata.

Widya tersenyum.

“Sampai akhirnya…”

Dia berhenti sejenak.

“…diambil oleh pemiliknya.”

Aku menatapnya.

Seakan memastikan aku tidak salah mendengar.

“Siapa pemiliknya?”

Widya tertawa kecil.

“Kamu.”

Aku ikut tersenyum.

Entah kenapa seluruh perjalanan dari Jakarta sampai Surabaya terasa terbayar pada saat itu.

Aku menundukkan kepala.

Ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak lagi takut.

Tidak ada prasangka.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada kecemasan.

Hanya ada kami.

Aku perlahan mengulurkan tangan.

Widya melihatnya.

Tanganku kemudian menggenggam tangannya.

Hangat.

Sederhana.

Tapi cukup untuk menjelaskan semua yang selama ini tidak mampu kami ucapkan.

Tidak ada kata cinta.

Tidak ada kalimat romantis yang berlebihan.

Kami hanya saling tersenyum.

Karena kami tahu…

perasaan itu masih ada.

Bahkan setelah jarak memisahkan.

Bahkan setelah waktu membuat kami kehilangan kabar.

Bahkan setelah aku pernah hampir kehilangan Widya karena rasa takutku sendiri.

Aku akhirnya mengerti.

Cinta bukan tentang memiliki seseorang sepenuhnya. Cinta adalah tentang memberi ruang kepada seseorang untuk memilih.

Dan hari itu…

Widya memilih untuk tetap menggenggam tanganku.

Sore mulai turun ketika kami meninggalkan kantin.

Kami berjalan berdampingan melewati taman kampus.

Tempat yang beberapa jam lalu membuatku merasa begitu kecil dan kecewa.

Kini terasa berbeda.

Aku tersenyum melihat Widya berjalan di sampingku.

“Apa?”

Widya menatapku.

“Kok senyum-senyum?”

Aku menggeleng.

“Nggak apa-apa.”

“Kamu aneh.”

Aku tertawa.

“Mungkin karena aku baru sadar sesuatu.”

“Apa?”

“Dulu aku datang ke Surabaya dengan rasa takut.”

Widya menatapku.

“Takut apa?”

“Takut kamu sudah bersama orang lain.”

Widya tertawa kecil.

“Dan ternyata?”

Aku menggenggam tangannya sedikit lebih erat.

“Ternyata aku masih punya kesempatan.”

Widya tersenyum.

“Tapi jangan posesif lagi.”

Aku tertawa.

“Iya.”

“Janji?”

“Janji.”

Kami kembali berjalan.

Tanpa tergesa-gesa.

Tanpa perlu mengatakan apa-apa lagi.

Karena setelah perjalanan panjang itu, akhirnya kami tahu ke mana hati kami akan pulang.

Aku datang ke Surabaya untuk menepati sebuah janji.

Ternyata aku tidak hanya menemukan Widya.

Aku juga menemukan kembali diriku sendiri.

Candra yang dulu mencintai dengan rasa takut telah berubah.

Kini aku tahu bahwa seseorang tidak bisa dipaksa untuk tinggal.

Kalau memang dia mencintai kita, dia akan memilih untuk tinggal.

Dan Widya…

telah memilihnya.

Aku menatapnya sekali lagi.

Perempuan yang pernah membuatku rela mengantar orang-orang yang tidak kukenal demi menyambung hidup.

Perempuan yang pernah membuat jarak terasa begitu menyakitkan.

Perempuan yang akhirnya mengajarkanku bahwa cinta tidak harus selalu dikejar.

Kadang cinta hanya perlu dijaga.

Dengan kesabaran.

Dengan kepercayaan.

Dan dengan keberanian untuk menunggu.

Aku tersenyum.

Hari itu, di Surabaya, setelah perjalanan panjang dari Jakarta…

akhirnya aku dan Widya kembali bersatu.

Bukan karena jarak mengalah.

Bukan karena waktu berhenti.

Tetapi karena kami berdua memilih untuk tetap menjaga hati.

Dan mungkin…

inilah akhir dari penantianku.

Atau justru awal dari perjalanan baru kami.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah hari ini.

Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak takut dengan masa depan.

Karena kini…

aku tidak lagi berjalan sendirian.

(TAMAT)

BACA JUGA: Ojek Cinta: Bagian VIII — Jarak yang Mengajarkanku Melepaskan

Rakai Daniswara

Pria sederhana yang memiliki pemikiran rumit. Ide-idenya melebihi kapasitas kepalanya.

Bagikan:

Tags: