JAKARTA, CERPENKITA.ID – Buku “Filosofi Orang Kampung” karya sastrawan sekaligus penulis naskah Harry Tjahjono menjadi pendorong penguatan identitas budaya Betawi di tengah perkembangan Ibu Kota yang semakin modern.
Hal ini diungkapkan Harry Tjahjono saat peluncuran buku “Filosofi Orang Kampung” di Balai Sastra H.B. Jassin, Perpustakaan Jakarta, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat pada Jumat, 11 September 202
Harry mengatakan buku tersebut lahir dari kegelisahannya terhadap keberadaan masyarakat Betawi di tengah perubahan Jakarta.
Kendati menghadapi keterbatasan fisik pascaserangan strok, ia tetap produktif berkarya dengan menuntaskan dua buku baru dan merencanakan pembaruan aransemen 30 karya musik tempo dulu.
“Karya ini lahir dari kekhawatiran kultural puluhan tahun silam agar masyarakat Betawi tidak terasing di tanah kelahirannya sendiri. Sehingga, kondisi kesehatan ini justru memberi motivasi dalam menghasilkan ragam novel, puisi, novelet, hingga puluhan lagu bertema Betawi. Lagu-lagu tersebut rencananya akan diproduksi ulang pada bulan Januari mendatang,” jelasnya.
Saat menghadiri peluncuran, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menilai, kehadiran buku “Filosofi Orang Kampung” menjadi penting karena dapat mendokumentasikan nilai-nilai kehidupan masyarakat Betawi yang semakin jarang ditemukan di tengah perubahan Jakarta.
Interaksi antartetangga, suasana lingkungan, dialek lokal, hingga kebiasaan masyarakat merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu terus dikenalkan kepada generasi berikutnya.
“Tontonan layar kaca saat ini kerap kehilangan keaslian nuansa kampung; banyak adegan menampilkan keseharian yang janggal dan terasing dari realitas warga kita yang bersahaja. Oleh sebab itu, kami mendorong Mas Harry agar terus berkarya menyusun ensiklopedia dan seri lanjutan, agar nilai-nilai luhur perkampungan tetap terdokumentasi rapi bagi generasi penerus,” urai Rano.
Rano turut mendukung berbagai kegiatan literasi dan pelestarian budaya yang dilakukan para pelaku seni dan masyarakat.
Dokumentasi mengenai sejarah dan kehidupan kampung dinilai dapat memperkuat pengetahuan masyarakat tentang perjalanan budaya Jakarta sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga identitas kota di tengah perkembangan Jakarta sebagai kota global.
“Kami berharap forum ini memberikan kemaslahatan nyata, dan mari bersama-sama kita hidupkan kembali kearifan kampung melalui perspektif yang lebih berkemajuan,” pungkasnya.







