Pintu itu tetap harum mewangi
Meski hamba tak menyapanya lagi
Aneh, menyapa mu menjadi luka
Melepasmu menjadi duka
Seperti kata Hengky Supit—
Bila engkau ijinkan, hamba ingin ketuk pintu itu lagi
Bolehkah jika hanya sekali?
Bukan untuk tinggal,
Bukan pula meminta kembali
Hamba hanya ingin memastikan
Apakah namaku masih kau kenali?
Sebab, ada damba
yang tak pandai mencari jalan pulang
Ia hanya duduk di depan pintu
Menunggu keberanian yang tak kunjung datang
Bila nanti engkau membuka
jangan tanyakan mengapa hamba kembali
Sebab sebagian hati
memang tak pernah benar-benar pergi
Dan bila ternyata pintu itu
tak lagi untuk hamba singgahi
Biarlah ketukan terakhir ini
menjadi salam sebelum hamba pergi
Bila engkau izinkan,
hamba ingin mengetuk sekali lagi
Bukan agar kau membuka hati–
cukup agar hamba tahu
pernah ada pintu
yang begitu ingin hamba masuki.







