“Ah, kau, Puan Kelana, mengapa musti ke sana?Jauh-jauh Puan kembara sedang dunia punya luka yang sama,” -Silampukau.
PESAWAT yang membawamu terbang ke Jakarta, Puan.
Dan aku hanya menatap kepergianmu dari sisa-sisa rindu yang tertinggal di Juanda.
Alias, aku memotret secara diam-diam ketika engkau memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Waktu itu aku masih percaya, semua perjalanan pada akhirnya akan menemukan jalan pulang.
Termasuk kamu, Puan.
Aku percaya Jakarta hanya persinggahan.
Aku percaya pekerjaanmu akan membuatmu sibuk beberapa waktu, lalu Surabaya akan kembali memanggilmu.
Aku percaya pesan yang tidak pernah kukirim akan tetap punya kesempatan untuk sampai.
Aku percaya terlalu banyak hal.
Barangkali karena saat seseorang sedang kehilangan, ia akan menciptakan kemungkinan-kemungkinan kecil agar dirinya tidak benar-benar merasa ditinggalkan.
Hari-hari setelah kepergianmu berjalan seperti biasa.
Surabaya tidak berubah. Jalanan tetap macet. Warung kopi tetap buka. Hujan masih jatuh di sore hari. Dan Kertajaya Indah nomor tujuh lima masih berdiri di tempatnya.
Hanya aku yang mulai menghindari jalan itu.
Bukan karena takut melihat rumahmu.
Aku hanya takut mengingat diriku sendiri ketika masih menjadi seseorang yang begitu yakin bahwa kamu akan kembali.
Aku menyibukkan diri dengan kuliah yang tak kunjung selesai, pekerjaan yang datang dan pergi, buku-buku yang lebih sering kubeli daripada kubaca.
René Descartes masih sesekali muncul di kepalaku. Cogito ergo sum. Aku berpikir, maka aku ada.
Tapi waktu itu aku justru merasa sebaliknya. Aku terlalu banyak berpikir tentangmu sampai lupa bahwa aku sendiri masih hidup.
Beberapa bulan kemudian, aku membuka media sosialmu. Kesalahan lama yang selalu berhasil kuulangi.
Namamu muncul. Bukan sendirian. Ada seorang laki-laki di sampingmu. Seragamnya membuatku langsung tahu siapa dia.
Tentara Angkatan Laut.
Aku memperbesar foto itu. Entah kenapa.
Seolah dengan memperbesar gambar, aku bisa menemukan sesuatu yang salah.
Mungkin senyummu tidak sungguh-sungguh. Mungkin tanganmu tidak benar-benar menggenggam tangannya. Mungkin semua itu hanya kebetulan. Mungkin.
Lagi-lagi aku membuat kemungkinan. Padahal senyummu terlihat begitu sederhana. Dan bahagia.
Aku menatap layar cukup lama. Lalu menutupnya. Tidak ada amarah. Tidak ada tangisan. Hanya ada sesuatu yang terasa kosong di dada.
Rasanya seperti berdiri di sebuah stasiun dan melihat kereta yang seharusnya kunaiki perlahan meninggalkan peron.
Aku terlambat.
Bukan karena keretanya datang terlalu cepat. Aku saja yang terlalu lama diam.
Waktu berlalu. Aku tidak tahu berapa lama. Sampai suatu hari kabar itu datang.
Puan menikah.
Dengan laki-laki yang sama. Tentara Angkatan Laut itu. Aku membaca kabar tersebut dari sebuah unggahan.
Foto pernikahan. Pakaian pengantin.
Senyummu. Dan seorang lelaki yang berdiri di sampingmu dengan wajah yang begitu yakin bahwa dialah orang yang ingin kau temui di ujung perjalanan.
Aku menatap foto itu. Lama. Kemudian tersenyum.
Aneh.
Ternyata menerima kenyataan tidak selalu disertai tangisan. Kadang ia hanya berupa senyum kecil dari seseorang yang akhirnya lelah berdebat dengan masa lalu.
Aku tidak tahu apakah kau pernah mengingatku.
Aku tidak tahu apakah suatu malam di Jakarta, sebelum tidur, kau pernah tiba-tiba teringat hujan di Surabaya.
Aku juga tidak tahu apakah kau pernah membuka kembali pesan-pesan lama kita. Aku tidak tahu.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa tidak perlu tahu. Sebab hidupmu sudah menemukan jalannya.
Aku kemudian teringat tulisan yang pernah kubuat pada 2019. Tulisan yang tidak pernah kukirim.
Soerabaja, 2019: Rindu Si Puan Kelana
Kubuka kembali file itu. Masih ada. Masih dengan kalimat-kalimat yang malu-malu untuk dibaca. Masih ada namamu.
Masih ada jalan Kertajaya. Masih ada hujan. Masih ada aku yang berpikir bahwa rindu adalah alasan seseorang untuk kembali.
Aku membaca semuanya sampai selesai.
Kemudian untuk pertama kalinya, aku tidak ingin mengirimkannya kepadamu.
Tidak lagi.
Tulisan itu cukup menjadi milikku. Menjadi bukti bahwa pernah ada seorang lelaki yang begitu menyayangimu–tetapi tidak cukup berani untuk mengatakan semuanya ketika masih ada kesempatan.
Mungkin itu kesalahanku. Mungkin memang begitu caraku belajar menjadi dewasa.
Lalu datang kabar tentang erupsi Gunung Anak Krakatau. Penerbangan terganggu. Bandara dipenuhi penumpang yang menunggu kepastian.
Beberapa pesawat dibatalkan. Aku membaca berita itu sambil duduk sendirian. Tiba-tiba aku teringat kepadamu.
Entah mengapa.
Mungkin karena bandara selalu mengingatkanku pada perpisahan. Pada hari ketika aku melihatmu dari balik kaca terminal.
Pada koper yang kau tarik. Pada pesawat yang membawamu pergi. Aku sempat membuka ruang percakapan kita.
Namamu masih ada. Jempolku bergerak. Aku ingin menulis sesuatu.
Mungkin: Puan, penerbanganmu dibatalkan?
Atau: Kamu baik-baik saja?
Atau mungkin kalimat yang enam tahun lalu tidak pernah berani kukirim: Aku masih merindukanmu.
Tetapi aku mengurungkan niat. Aku mematikan layar. Bukan karena aku sudah tidak punya perasaan. Justru karena aku akhirnya tahu, perasaan tidak selalu harus memiliki tujuan.
Ada rindu yang cukup disimpan. Ada nama yang cukup dikenang. Ada seseorang yang boleh tetap tinggal di masa lalu tanpa harus kita tarik kembali ke masa kini.
Dan ada cinta—ah, aku hampir menulis kata itu—yang mungkin memang tidak ditakdirkan untuk memiliki akhir seperti yang pernah kita bayangkan.
Puan, barangkali inilah akhir dari kelanamu.
Atau mungkin bukan. Sebab orang sepertimu memang tidak pernah benar-benar berhenti berjalan.
Hari ini kau mungkin tinggal di Jakarta.
Besok entah ke mana. Mungkin suatu hari kau akan melihat laut dari kota yang jauh, bersama laki-laki yang kini berdiri di sampingmu.
Seorang tentara Angkatan Laut.
Dan mungkin, ketika angin laut berembus ke wajahmu, kau akan teringat bahwa pernah ada seseorang di Surabaya yang menganggapmu rumah.
Tidak apa-apa kalau kau tidak ingat.
Sungguh. Aku sudah berdamai dengan kemungkinan itu. Sebab sekarang aku mengerti apa yang dulu tidak bisa kupahami.
Paris tidak menyembuhkan luka. Jakarta juga tidak. Surabaya pun tidak.
Kita membawa luka kita sendiri ke mana
pun kaki membawa kita. Tetapi waktu mungkin mengajarkan kita bagaimana hidup bersamanya.
Malam itu aku kembali mendengarkan Puan Kelana.
Sendirian. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada pesan yang kukirim. Tidak ada nomor yang kuhubungi.
Hanya lagu, kopi, dan Surabaya yang masih menyimpan terlalu banyak cerita.
Aku membayangkan dirimu. Bukan lagi sebagai perempuan yang pergi meninggalkanku.
Melainkan sebagai perempuan yang akhirnya menemukan seseorang untuk berjalan bersamanya. Dan entah kenapa, kali ini aku bisa tersenyum.
Selamat menikah, Puan.
Semoga laki-laki itu menjagamu lebih baik daripada caraku menjagamu dalam ingatan.
Semoga rumah yang kau bangun bersamanya lebih hangat daripada teras rumahmu di Kertajaya yang pernah menjadi tempat kita bercerita tentang hujan.
Dan semoga kelak, ketika kau melihat laut—kau menemukan ketenangan di sana.
Sebab aku tahu, kau memang selalu ingin berkelana. Hanya saja, aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari kau akan menemukan tempat untuk berhenti.
Aku pernah berpikir akhir perjalananmu adalah Jakarta. Ternyata bukan. Bukan Paris. Bukan Surabaya. Bukan pula kota mana pun.
Akhirmu adalah seseorang.
Dan kali ini, bukan aku. Aku menutup laptop. Tulisan 2019 itu kusimpan kembali.
Tidak kuhapus. Tidak juga kukirim. Biarlah ia tinggal di sana.
Sebagai surat yang tak pernah sampai.
Sebagai rindu yang pernah tumbuh.
Sebagai bagian kecil dari seorang lelaki yang pernah percaya bahwa perempuan bernama Puan akan kembali.
Padahal sejak awal, ia memang tidak pernah berjanji untuk pulang.
Di luar, hujan turun di Surabaya. Aku membuka jendela. Menghirup udara malam.
Lalu berkata pelan, entah kepada siapa:
“Selamat berkelana, Puan.”
Aku tersenyum.
“Sampai lanjut usia.”
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak lagi menunggu.
“Mari Puan Kelana, jangan tinggalkan hamba. Toh anggur sama memabukkannya. Entah merlot, entah cap orang tua,” -Silampukau.
Tamat.








