“Aih, Puan Kelana. Mengapa musti ke sana? Paris pun penuh marabahaya dan duka nestapa s’perti Surabaya,” -Silampukau.
Bab sebelumnya, aku memutuskan untuk menulis sebuah pesan kepada Puan. Teksnya sederhana. Mungkin terdengar alay.
Mungkin terdengar menjijikan. Atau bahkan seperti bocah yang kalangkabut ketika sang pujaan pergi meninggalkannya.
Tapi, aku merindukanmu Puan!
Sayangnya, pesan itu tak pernah benar-benar kukirim. Aku menghapusnya. Menulisnya lagi. Menghapusnya lagi.
Begitu terus sampai akhirnya aku menyerah pada sebuah keberanian yang tidak pernah datang.
Beberapa bulan kemudian, ketika iseng-iseng aku membuka media sosialnya, kulihat Puan sudah bersama orang baru.
Entah pria dari Jakarta atau keturunan Paris. Persetan!
Lagi-lagi René Descartes, Molière, dan Maupassant memenuhi isi kepalaku yang kosong. Kuliah tak kunjung lulus. Puan tetaplah Puan.
Ia tetap berkelana.
Dan aku tetap menjadi lelaki yang terlalu banyak berpikir, tetapi terlalu sedikit berbuat.
Aku titipkan seutas pesan ini kepada pembaca. Semoga sampai kepadamu, Puan!
Soerabaja, 2019: Rindu Si Puan Kelana
Ada getaran yang tercipta, tiap kali ku Mengarungi sudut Kota: Soerabaja
Jalan Kertajaya Indah nomor tujuh lima
Disana, tempat bersemayam kami berdua
Entah mengapa udara berhasil
Tiap kali ku mengingat tentang teras rumahmu
Puan, ku titipkan getaran ini
Agar terasa dalam tangisan rindumu
Mengingat senyumanmu
Mengingat tawamu
Mengingat kerlip matamu
Mendengar suaramu
Mengingat tawamu, membuatku slalu rindu
Saat kita, bercerita jatuhnya hujan di Soerabaja
“Langit sungguh jingga itu sore, dan kau masih milikku,” -Silampukau.
–Sampai Lanjut Usia, Puan!–
Penulis belum cukup legowo untuk melanjutkan ke part 3. Semoga tuntas!







