(Terinspirasi dari kisah nyata)

Jangan pernah bermain sendirian di pinggir kali ketika hari mulai gelap.

SAAT itu usiaku baru menginjak enam tahun.

Aku masih terlalu kecil untuk memahami banyak hal tentang dunia. Yang kutahu, sore adalah waktunya bermain sampai orang tua memanggil untuk pulang. Namun sore itu berbeda. Ada sesuatu yang hingga kini masih sulit kujelaskan, sesuatu yang baru kusadari bertahun-tahun kemudian.

Senja menjelang Maghrib.

Aku bersama beberapa teman sebaya masih bermain lompat tali di pinggir kali. Di belakang kami, rumpun bambu tumbuh begitu rimbun. Batang-batangnya saling berhimpitan, membentuk semacam dinding hijau yang membuat tempat itu terasa lebih sunyi dibandingkan biasanya.

Angin berembus pelan.

Daun-daun bambu bergesekan dan menimbulkan suara gemerisik yang panjang.

Satu per satu temanku mulai pulang. Langit yang semula kemerahan perlahan berubah kelabu. Cahaya matahari semakin tenggelam di balik pepohonan.

Tinggal aku dan seorang temanku.

Kami masih berada di tepi kali, mencuci kaki yang kotor setelah bermain seharian.

Temanku selesai lebih dulu.

“Ayo pulang.”

Aku tidak segera beranjak. Aku masih sibuk menggosok telapak kaki dengan tangan, membersihkan tanah yang menempel di sela-sela jari.

Temanku kemudian pergi lebih dulu.

Aku masih sendirian.

Suasana di sekitar kali mendadak terasa begitu sepi.

Hanya suara air yang mengalir dan gesekan daun bambu yang terdengar dari kejauhan.

Lalu tiba-tiba.

Tep.

Sesuatu menepuk bahuku dari belakang.

Aku mengira temanku kembali.

“Iya, sebentar. Tungguin aku.”

Tidak ada jawaban.

Aku kembali menggosok kakiku.

Beberapa detik kemudian, perasaan aneh mulai muncul. Bulu kudukku meremang. Perlahan aku menoleh ke belakang.

Dan saat itulah aku melihatnya.

Seorang perempuan paruh baya berdiri tepat di belakangku.

Rambutnya panjang, terurai hingga hampir menutupi sebagian wajah. Rambut itu tampak agak berantakan, seperti baru saja diterpa angin.

Ia mengenakan atasan kebaya dengan bawahan kain bermotif batik. Pakaiannya terlihat lusuh dan kusam, seolah sudah lama tidak dicuci.

Aku tidak mengenalnya.

Namun anehnya, aku sama sekali tidak merasa takut.

Perempuan itu tersenyum kepadaku.

Senyumnya terlihat aneh.

Aku hanya diam menatapnya.

Kemudian perempuan itu mengajakku bermain ke rumahnya.

Entah mengapa, saat ia berbicara, pikiranku seperti kehilangan kemampuan untuk menolak. Tatapannya membuatku terpaku. Seolah ada sesuatu yang menarik kesadaranku perlahan-lahan menjauh dari tempat itu.

“Sudah gelap ndhuk, mampir dulu ke rumah Ibu, nanti baru Ibu antar pulang,” katanya sambil menyeringai.

Aku berdiri.

Tanpa bertanya siapa dirinya, tanpa memberi tahu orang tua, aku mengikutinya.

Rumahnya terasa dekat dari tempatku bermain.

Kami melewati jalan kecil yang diapit rumpun bambu. Anehnya, perjalanan itu terasa berbeda dari biasanya. Aku tidak merasa lelah. Suara dunia di sekitarku seperti semakin jauh.

Tidak ada suara anak-anak.

Tidak ada suara orang-orang.

Hanya langkah perempuan itu di depanku.

Sesekali ia menoleh dan tersenyum.

Sampai akhirnya kami tiba di sebuah rumah yang sangat sederhana.

Dindingnya terbuat dari bilik bambu. Atapnya berbahan jerami. Rumah itu tampak tua dan kusam.

Pencahayaannya sangat remang.

Di ruang tengah hanya ada satu lampu ceplik yang diletakkan di atas meja. Nyala apinya kecil dan bergoyang-goyang diterpa angin, membuat bayangan di dinding bilik bergerak seperti sesuatu yang sedang berjalan.

Aku diminta duduk di kursi di depan meja.

Sementara perempuan itu menuju ruang belakang yang tampak gelap.

Aku memperhatikannya sampai sosoknya lenyap di balik pintu.

Tak lama kemudian, ia keluar membawa bakul nasi lengkap dengan lauk-pauk.

Anehnya, nasi itu masih mengepulkan uap.

Aku bisa mencium aroma makanan yang begitu kuat.

Ada ikan goreng, lalapan, dan sambal terasi.

“Makanlah ndhuk, pasti kamu lapar habis main seharian.”

Perempuan itu kemudian mengambil kendi berisi air putih dari atas meja yang letaknya tak jauh dari tempatku duduk.

Aku sama sekali tidak curiga.

Aku menyantap hidangan yang disajikan dengan lahap. Rasanya seperti makanan yang biasa kumakan di rumah.

Sementara perempuan itu terus memperhatikanku.

Tatapannya tidak pernah benar-benar lepas dariku.

“Habis makan kamu mandi dulu, baru ibu antar pulang,” ucapnya sambil memandangiku.

Aku hanya mengangguk.

Di tempat lain, ibuku mulai panik.

Hari semakin gelap, tetapi aku belum juga pulang.

Ibuku bersama kakakku bertanya kepada teman-temanku tentang keberadaanku.

Teman-temanku hanya bisa mengatakan bahwa aku tadi masih bermain di pinggir kali.

Ayah kemudian ikut mencari.

Bersama beberapa tetangga, ia menyusuri bantaran kali dengan membawa lampu obor. Rumpun bambu yang siang tadi menjadi tempat bermain kini berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.

Bayangan bambu memanjang di tanah.

Angin malam membuat daunnya bergoyang dan berbisik tanpa henti.

Mereka memanggil-manggil namaku.

“Di mana kamu?”

“Nak!”

Namun tidak ada jawaban.

Ibuku dan kakakku semakin putus asa.

Teman yang terakhir bersamaku akhirnya bercerita kepada ibuku bahwa sebelum pulang, ia sempat mengajakku pergi.

“Aku sudah ajak pulang, wak. Tapi dia diam sambil terus cuci kaki.”

Mendengar cerita itu, tubuh ibuku seketika lemas.

Ada firasat buruk yang tiba-tiba muncul di benaknya.

Firasat yang selama ini hanya dianggap sebagai cerita orang-orang kampung.

Wewe gombel.

Memang waktu itu tengah ramai cerita tentang keberadaan wewe gombel. Orang-orang sering bercerita tentang sosok perempuan menyeramkan yang suka membawa pergi anak-anak, terutama mereka yang masih bermain menjelang Maghrib.

Malam itu, cerita tersebut mendadak terasa bukan lagi sekadar cerita.

Ayah dan para tetangga terus mencariku.

Mereka menyusuri bantaran kali, memeriksa semak-semak, bahkan masuk ke sela-sela rumpun bambu yang gelap.

Namun aku tidak ditemukan.

Pencarian berlangsung hingga waktu subuh.

Langit mulai berubah pucat ketika ayah akhirnya pulang.

Tidak ada hasil.

Wajahnya tampak putus asa.

Ia mencoba menenangkan ibuku yang masih syok.

“Kita berdoa saja. Semoga nanti siang anak kita kembali,” kata ayah sambil mengelus kepala ibuku.

Sementara itu, aku masih berada di rumah perempuan asing tersebut.

Aku baru saja selesai makan ketika perempuan itu mengajakku ke kamar mandi.

Kamar mandinya berada di halaman belakang.

Dindingnya hanya terbuat dari bilik bambu yang sudah tua. Di dalamnya terdapat sebuah gentong gerabah dengan gayung yang terbuat dari batok kelapa.

Aku dimandikan olehnya.

Tangannya mengelus kepalaku pelan sambil menyiramkan air dari gentong.

Air itu terasa dingin.

Namun aku tidak melawan.

Aku seperti terhipnotis.

Apa pun yang dikatakan perempuan itu, aku menurutinya.

Aku tidak bertanya.

Aku tidak menangis.

Aku bahkan tidak merasa takut.

Seolah-olah pikiranku bukan lagi milikku sendiri.

Setelah selesai dimandikan, perempuan itu mengantarku pulang.

Kami berjalan melewati jalan yang tidak kukenal.

Namun perjalanan itu terasa sangat cepat.

Langkah demi langkah tidak terasa melelahkan. Bahkan rasanya kami baru berjalan sebentar, tetapi tiba-tiba sudah berada di dekat rumahku.

Ada sesuatu yang aneh.

Aku merasa seperti sedang berjalan dalam mimpi.

Suara di sekeliling terdengar samar.

Udara terasa dingin.

Dan dunia seperti kehilangan warna.

Perempuan itu hanya mengantarku sampai belakang rumah.

Entah mengapa aku diantarkan lewat belakang, bukan dari depan rumah.

Saat itu, dalam pikiranku, mungkin baru pukul delapan malam.

Aku masih setengah sadar.

Rasanya seperti berada di antara dunia nyata dan dunia yang tidak nyata.

Aku kemudian menoleh ke belakang.

Perempuan asing itu berdiri beberapa langkah dariku.

Ia tersenyum.

Bukan senyum seperti sebelumnya.

Kali ini senyumnya tampak jauh lebih lebar.

Ia menyeringai sambil terus menatapku.

Aku diam.

Kemudian dalam sekejap perempuan itu menghilang dari pandangan.

Aku tidak tahu ke mana ia pergi.

Tidak ada suara langkah.

Tidak ada suara pintu.

Tidak ada apa-apa.

Setelah itu, semuanya menjadi gelap.

Aku tidak tahu apa yang terjadi.

Ketika akhirnya sadar, aku sudah terbaring di atas ranjang.

Di sekelilingku berdiri banyak orang.

Aku membuka mata perlahan.

Pandangan masih kabur.

Wajah-wajah di sekelilingku terlihat seperti bayangan.

Kemudian aku melihat ibuku.

Ia menangis.

“Sudah sadar… sudah sadar,” kata salah satu tetanggaku.

Ibuku langsung memelukku.

Tubuhnya gemetar.

Air matanya membasahi rambutku.

“Akhirnya kamu sada ndhuk.”

Aku memandangnya dengan bingung.

“Aku di mana, Bu?”

“Kamu udah di rumah, ndhuk.”

Aku merasa tenggorokanku kering sekali.

Aku meminta minum kepada ibu.

Setelah minum beberapa teguk, kesadaranku mulai pulih.

Aku kembali bertanya kepada ibuku.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Ibuku kemudian menceritakan semuanya.

Aku sudah hilang selama tiga hari.

Tiga hari.

Aku terdiam.

Tidak mungkin.

Dalam ingatanku, aku hanya merasa pergi sebentar.

Aku bahkan merasa baru sekitar dua jam berada di rumah perempuan asing itu.

Bagaimana mungkin tiga hari telah berlalu?

Aku kemudian menceritakan semuanya kepada ibu dan orang-orang yang berada di rumah.

Tentang perempuan berambut panjang.

Tentang rumah bilik bambu.

Tentang nasi hangat dan lauk-pauk.

Tentang kamar mandi di belakang rumah.

Tentang perempuan itu yang mengantarku pulang.

Dan tentang senyum anehnya sebelum menghilang.

Semua orang yang mendengarkan ceritaku saling berpandangan.

Tidak ada yang langsung berbicara.

Suasana rumah mendadak hening.

Hingga akhirnya mereka menyimpulkan satu hal.

Aku baru saja diculik oleh wewe gombel.

Sampai bertahun-tahun kemudian, aku masih sering teringat kejadian itu.

Entah apa yang sebenarnya terjadi selama tiga hari tersebut.

Namun satu hal yang tidak pernah bisa kulupakan adalah wajah perempuan itu.

Terutama senyumnya.

Senyum yang muncul di antara cahaya lampu ceplik yang remang, di rumah bilik bambu yang entah benar-benar ada atau hanya berada di antara batas dunia nyata dan dunia gaib.

Dan setiap kali senja datang, ketika suara azan Maghrib mulai terdengar dari kejauhan, aku selalu teringat satu hal:

Jangan pernah bermain sendirian di pinggir kali ketika hari mulai gelap.

Rakai Daniswara

Pria sederhana yang memiliki pemikiran rumit. Ide-idenya melebihi kapasitas kepalanya.

Bagikan:

Tags: