DENGAN namamu, kubuka perlahan
Segala baik dihaturkan seluruh alam
Kau kasih yang patut disayang
Tapi pemiliknya masih terbayang

Menyapa mu menjadi luka
Melepasmu menjadi duka
Tunjukkanlah yang sebenarnya
Lurus pun tak apa

Jalan yang berliku bukan pula yang sesat
Namun Niskala tetap melekat
Langitnya semoga sampai
Di sini menanti kabar baiknya

–Tentang Sebuah Pembukaan–

Diksi di atas merupakan penggalan atau untaian kata dari program #memasak band Antakara Wening. Setelah debut single “Juar” mengudara di digital streaming platform, Jumat, 28 Agustus 2026, mereka kembali menyalakan kompor.

Menyiapkan bahan-bahan, mengumpulkan perlengkapan, memanaskan minyak, dan kembali memasak sampai matang. Masakan enak atau tidak, urusan masing-masing. Persetan!

Kali ini sesi bedah lirik, paling tidak–maksudnya begini:

Barangkali memang tidak ada pembukaan yang lebih sederhana selain menyebut nama-Nya.

Bismillahirrahmanirrahim.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Dari sanalah lirik ini dimulai.

“Dengan namamu, kubuka perlahan”

Bukan sekadar kalimat pembuka sebuah lagu. Ia adalah cara untuk mengetuk pintu. Sebab setiap perjalanan, betapapun kecilnya, selalu membutuhkan sesuatu untuk dijadikan permulaan.

Lalu “Segala baik dihaturkan seluruh alam.”

Ia membawa kita kepada Alhamdulillahi rabbil ‘alamin–segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.

Tentang segala yang baik. Tentang sesuatu yang patut disyukuri meski kadang datang dalam bentuk yang tidak kita mengerti.

Kemudian ada kalimat:

“Kau kasih yang patut disayang
Tapi pemiliknya masih terbayang.”

Di sini, lirik mulai bergerak dari yang agung menuju yang sangat manusiawi.

Kasih itu ada. Rasa sayang itu nyata. Tetapi manusia sering kali datang tidak dengan halaman yang benar-benar kosong.

Ada nama yang belum selesai disebut. Ada seseorang yang mungkin sudah pergi, tetapi bayangannya masih tinggal.

Dan bukankah manusia memang begitu?
Kita bisa bertemu seseorang yang baik, tetapi hati belum tentu selesai dengan masa lalu.

“Menyapamu menjadi luka
Melepasmu menjadi duka.”

Dua baris ini seperti percakapan dengan hati sendiri. Menyapa sakit. Melepas pun sakit.

Lalu datang:

“Tunjukkanlah yang sebenarnya
Lurus pun tak apa.”

Di sinilah napas Al-Fatihah terasa semakin jelas.

Ihdinash-shirathal mustaqim.

Tunjukilah kami jalan yang lurus.

Sebab terkadang yang paling kita butuhkan bukan seseorang untuk tinggal–bukan pula seseorang untuk kembali.

Kita hanya ingin ditunjukkan jalan. Kalau memang harus bersama, tunjukkan jalannya. Kalau harus berpisah, tunjukkan juga jalannya.

Kalau kenyataan ternyata berbeda dari apa yang kita harapkan, biarlah ia tetap menjadi jalan yang lurus.

Lurus pun tak apa.

Kemudian:

“Jalan yang berliku bukan pula yang sesat
Namun Niskala tetap melekat.”

Tidak semua jalan yang berliku berarti salah arah. Ada perjalanan yang harus ditempuh dengan pelan.

Ada belokan yang baru kita pahami setelah jauh berjalan. Ada kehilangan yang baru terasa maknanya bertahun-tahun kemudian.

Tetapi di antara yang terlihat dan tidak terlihat, ada sesuatu yang tetap melekat.

Niskala.

Sesuatu yang tidak selalu bisa ditunjuk dengan jari, tetapi dapat dirasakan oleh hati. Kenangan, mungkin. Doa, barangkali.

Atau sesuatu yang belum selesai kita lepaskan. Dan pada akhirnya, lirik ini kembali kepada langit:

“Langitnya semoga sampai
Di sini menanti kabar baiknya.”

Seperti sebuah doa yang dilepas tanpa tahu kapan akan kembali.

Sebab pada akhirnya, Al-Fatihah bukan hanya tentang membuka sebuah bacaan. Ia juga tentang membuka perjalanan: menyebut nama-Nya, bersyukur, memohon kasih, meminta petunjuk, lalu berharap agar langkah tidak tersesat.

Maka lagu ini pun dibuka dengan nama-Nya. Bukan untuk menjelaskan segala sesuatu. Barangkali justru untuk mengakui bahwa ada banyak hal yang tidak sanggup kita jelaskan.

Ada seseorang yang masih terbayang. Ada jalan yang belum diketahui ujungnya. Ada kasih yang belum tentu menjadi milik. Dan ada doa yang kita titipkan kepada langit.

Selebihnya, biarlah Tuhan yang menunjukkan jalan.

Karena setiap perjalanan, pada akhirnya, membutuhkan sebuah pembukaan. -Mat Lila

Mat Lila

Pemuda dari Bangkalan, Madura suka menulis sejak kelas 2 SD di Tragah. Kau tak perlu mengenal siapa penulisnya, cukup nikmati saja karya karyanya. Hong!

Bagikan:

Tags: