HAMBA duduk sepi tanpa arah
hilang dalam keraguan
Tersipu larut dalam rindu
Sendiri bertanya-tanya
Selalu memeluk pedoman esa
Kasih, nista, darinya hamba belajar
Bahwa kebaikan datang sendirinya
Gila, tertegun hilang arah
Bisikan lirih selalu terdengar dalam lubuk
Senyumnya membuat lupa
Tapi itu fana
Ekspektasi yang tidak mungkin
Payah dan selalu kalah
Semoga bertemu di ilusi yang sama
Barangkali hamba terlalu lama
Menunggu sesuatu yang tak pernah tiba
Mengira setiap diam adalah pertanda
Mengira setiap senyum menyimpan makna
Padahal senja pun tahu
Tak semua cahaya harus dimiliki
Ada yang cukup dipandang dari jauh
Lalu perlahan menghilang
Dibawa malam yang tak pernah berjanji
Hamba pernah meminta
Agar namanya tinggal dalam doa
Bukan sebagai milik hamba,
Hanya sebagai seseorang
Yang pernah membuat dunia terasa berbeda
Jika memang bukan jalan kita
Biarlah hamba belajar menerima
Jika rindu adalah kesalahan
Biarlah waktu yang mengampuninya
Dan bila suatu hari
Kita tak lagi saling mengenal
Semoga tidak ada yang perlu disesalkan
Sebab pernah ada satu masa
Kita saling menjadi alasan untuk tersenyum
Kini hamba biarkan semuanya larung
Hanyut bersama arus yang tak tahu muaranya
Rindu, harapan, juga segala tanya
Hamba lepas satu per satu
Tanpa meminta kembali
Sebab mungkin mencintai
Bukan selalu tentang memiliki
Kadang ia hanya tentang merelakan
Seseorang pergi
Agar dirinya tetap menemukan jalan pulang
Dan bila kelak
Kita benar-benar bertemu lagi
Bukan sebagai dua hati yang saling menunggu
Melainkan dua manusia
Yang sudah berdamai dengan masa lalu
Semoga kita masih tersenyum
Semoga tak ada lagi yang kita cari
Semoga kita telah menemukan
Ilusi yang sama–di tempat
yang tidak lagi bernama kehilangan.







