“Ning Bendungan, Karet Rambatan kulon… kita wong loro nangis bareng ketuwon.” -Bendungan Karet
TEMBANG tarling langsung mengalun ketika Darso menaiki bus Pantura dengan tujuan akhir Pekalongan, Jawa Tengah.
Lampu-lampu kabin yang temaram, jok yang empuk, serta sapaan ramah asisten sopir menyambutnya dalam perjalanan panjang malam itu.
Darso memilih bangku dekat jendela. Ia meletakkan tas di bawah kaki, lalu menyandarkan tubuhnya perlahan.
Di luar, jalanan mulai dipenuhi gelap. Sesekali cahaya lampu toko, warung, dan kendaraan yang berpapasan menyelinap melalui kaca bus.
Malam itu, Darso harus pulang dari perantauan menuju kampung halamannya di Brebes, Jawa Tengah.
Bukan karena rindu. Bukan pula karena ia sedang membawa kabar baik dari tanah rantau. Ada urusan yang harus ia selesaikan.
Urusan yang selama beberapa bulan terakhir coba ia hindari, tetapi akhirnya memaksanya pulang.
Perceraian.
Kata itu berputar-putar di kepalanya, bahkan ketika bus mulai meninggalkan Jakarta. Ia tahu, setibanya di Brebes nanti–tidak ada lagi alasan untuk menunda.
Tidak ada lagi percakapan yang bisa dipotong dengan alasan pekerjaan. Tidak ada lagi jarak yang bisa dijadikan tempat bersembunyi.
Ia akan berhadapan dengan perempuan yang dulu berjanji menemaninya sampai tua. Dan besok, mereka akan mengurus bagaimana caranya menjadi dua orang asing kembali.
Darso menatap keluar jendela. Tembang tarling masih mengalun dari speaker bus. Aneh, pikirnya.
Dari sekian banyak lagu yang bisa diputar malam itu, justru lagu tentang dua orang yang menangis bersama yang menemaninya pulang.
“Yen masih demen bekas rabine, kula sing ngalah… beresan bae.” -Nyusubi Weteng
Ia tersenyum getir. Barangkali sopir bus tidak tahu. Atau mungkin malam memang sedang tahu terlalu banyak.
“Gemuyu dewek sih mas kaya wong kentir,” kata pria disebelah Darso.
“Ora papa, lagune ngeles temen. Nanggap Citra Nada pira ya?” timpal Darso disertai gelak tawa.
Darso dan pria disebelahnya memulai percakapan dengan nostalgia lagu-lagu tarling era Hj Dariyah, Aas Rolani, Nunung Alvi hingga penyanyi tarling jebolan ajang pencarian bakat MNCTV: Dewi Mahira.
Mereka akhirnya berkenalan. Dan pria disebelah Darso itu ternyata bernama Paijo, sama-sama asal Brebes juga. Bedanya–Paijo di Desa Ciasem. Tak jauh dari kediaman Darso.
“Duh… jebule wonge dewek. Ya allah kaya ketemu sedulur.”
“Nyong tahh balik angger ana perlune tok, ora sering balik Brebes,” kata Paijo.
Mereka pun kembali berbicara tentang lagu tarling. Kali ini bahas soal biduan, grup musik hingga tembang favorit.
“Saiki esih seneng ngrungokna tarling, Mas?” tanya pria itu.
“Ya esih lah. Malah saiki kaya luwih seneng.”
“Sih kenang apa?.”
Darso mengangkat bahu.
“Mbuh. Soale lagu tarling kue jujur.”
“Jujur primen?”
“Uwong angger lagi susah, ya susah. Lagi ditinggal, ya ditinggal. Yen diselingkuhi, ya ngomong diselingkuhi. Ora kaya lagu zaman saiki.”
Paijo tertawa.
“Lagu zaman saiki mah muter-muter. Tresna, rindu, bahagia. Ujung-ujunge endorse.”
Darso tergelak.
“Ari nyong tah senenge Dian Anic, Dewi Kirana, karo Ayu WD. Apa maning pas esuk–disambi karo ngopi kayong ngeles temen,” ucap Paijo.
“Iya kue Dian Anic enak. Cocok pas nembang ‘kecewa’. Tapi nyong senenge Citra Nada karo Prima Ega.”
“Apa maning Aidha Gonzalez, suarane apik, wonge ya ayu,” tambah Darso.
Bus melaju membelah jalan Pantura. Di dalam kabin, sebagian penumpang mulai terlelap. Seorang ibu memeluk anaknya yang tertidur di dada. Dua pemuda di kursi belakang sesekali berbicara pelan.
Selebihnya, suara mesin bus dan tembang tarling menjadi pengisi malam.
“Ari sampean sih Brebes e ndi?” tanya Paijo.
“Ketanggungan.”
“Ooh. Bekas mantane nyong daerah kono oh.”
“Ya allah, temenan?”
“Iya. Umahe sebelahe Mesjid. Tapi nyong klalen desane.”
Darso kemudian diam. Ia seperti hendak bertanya sesuatu, tetapi mengurungkannya.
Darso kembali melihat ke luar jendela.
Pantulan wajahnya sendiri tampak samar di kaca. Wajah yang beberapa tahun terakhir seperti kehilangan sesuatu.
Entah keberanian, entah keyakinan. Lima tahun di Jakarta. Lima tahun pula ia mencoba menjadi seseorang.
Ia datang dengan sepasang sepatu, satu koper, dan keyakinan bahwa kota besar akan memberinya kesempatan.
Ia bekerja apa saja. Pernah menjadi sales, pernah menjaga gudang, pernah menjadi sopir lepas. Gajinya tidak pernah benar-benar cukup, tetapi selalu ia usahakan untuk dikirim pulang.
Dulu, setiap akhir bulan, ia akan menelepon istrinya.
“Sudah kukirim.”
“Iya.”
“Cukup?”
“Cukup.”
Percakapan mereka sesederhana itu. Kemudian waktu berjalan. Uang yang dikirim mulai berkurang. Telepon mulai jarang.
Percakapan yang semula hanya berlangsung lima menit berubah menjadi pertengkaran satu jam. Hingga suatu malam, istrinya berkata:
“Kalau begini terus, kita mau sampai kapan?”
Darso tidak menjawab. Sebab ia sendiri tidak tahu.
“Mas?”
Suara pria di sebelahnya membuyarkan lamunan.
“Iya, Pak?”
“Melamun terus.”
Darso tersenyum.
“Capek.”
“Kerjaan?”
“Banyak.”
Pria itu mengangguk. Tidak mengejar jawaban. Lagu tarling kembali berganti. Petikan gitar mengalun lebih pelan.
Suara penyanyi perempuan menyayat dari speaker bus yang kualitas suaranya sudah sedikit pecah.
“Men diparani yen kakang lunga, tulung kula digawa… arep sedina, arep seminggu, kang kulane melu.. Klambine ireng. Topine ering, bentinge ula pucuk.” -Ula Pucuk.
Pria di sebelah Darso ikut bersenandung.
“Lagu lawas enak nemen ya disetel pas bengi.”
“Sih ning apa?”
“Karena kita sudah tua.”
Darso tertawa.
“Bapak tua?”
“Lha iya.”
“Kalau saya?”
“Belum tua. Tapi mukamu sudah banyak masalah.”
Darso kembali tertawa.
“Kelihatan, ya?”
“Kelihatan.”
“Separah itu?”
“Lumayan.”
Darso mengusap wajahnya.
“Padahal sudah nyong wes cukur.”
“Bukan jenggotnya.”
“Terus?”
“Pikiranmu.”
Mereka sama-sama tertawa. Tawa kecil itu kemudian hilang ditelan suara mesin. Beberapa detik berlalu.
“Pulang ke Brebes ada acara apa?” tanya Paijo itu.
Darso menatap jalan.
“Urusan keluarga.”
“Orang tua?”
“Bukan.”
“Saudara?”
“Bukan juga.”
Paijo menunggu. Darso menarik napas.
“Nyong mbesuk pegatan.”
Paijo tidak langsung menjawab. Tembang tarling masih terdengar.Sebuah truk besar melintas dari arah berlawanan. Cahaya lampunya menerangi kabin bus sesaat, lalu kembali gelap.
“Wah,” katanya pelan.
Darso hanya tersenyum.
“Sudah lama?”
“Prosesnya?”
“Iya.”
“Sudah beberapa bulan.”
“Terus malam-malam begini pulang?”
“Harus.”
“Masih sayang?”
Darso tidak menjawab. Ia kembali memandang kaca. Di sana, wajahnya terlihat semakin asing.
“Embuh, Pak.”
Paijo mengangguk.
“Kalau masih enggak tahu, berarti masih ada.”
Darso tersenyum kecil.
“Bisa jadi.”
“Kenapa sampai cerai?”
Pertanyaan itu membuat Darso terdiam cukup lama.
Ia tidak tahu harus memulai dari mana.
Dari pekerjaan yang hilang? Dari uang yang semakin sedikit? Dari rumah tangga yang perlahan kehilangan percakapan?
Atau dari dirinya sendiri yang terlalu sibuk mencari uang sampai lupa bagaimana caranya menjadi suami?
“Banyak, Pak.”
“Yang paling besar?”
Darso mengembuskan napas.
“Mungkin karena saya gagal.”
“Gagal apa?”
“Jadi laki-laki yang dia butuhkan.”
Pria di sebelahnya menatap Darso.
Untuk pertama kalinya sejak percakapan mereka dimulai, lelaki itu tidak tertawa.
“Semua orang pernah gagal, Mas.”
Darso mengangguk.
“Tapi tidak semua kegagalan harus dibawa pulang.”
Darso tersenyum getir.
“Kalau saya, kayaknya harus.”
“Kenapa?”
“Karena besok saya harus mengurus sisanya.”
Paijo kembali diam. Darso pun tidak melanjutkan.Di luar, malam Pantura semakin pekat. Warung-warung yang tadi ramai satu per satu mulai tutup.
Lampu-lampu rumah penduduk terlihat seperti kunang-kunang yang tercecer di kejauhan.
Bus terus melaju menuju Brebes. Kota yang dahulu menjadi tempat Darso berangkat membawa harapan. Kini menjadi tempat ia pulang membawa kekalahan.
Dari speaker bus, tembang tarling kembali mengalun. Darso tersenyum kecil. ia tidak tahu siapa yang memilih lagu-lagu itu malam ini.
Tetapi setiap bait seperti sedang mengingatkannya pada sesuatu. Tentang rumah. Tentang perempuan yang pernah menunggunya.
Tentang dirinya sendiri yang dulu berjanji akan pulang membawa kabar baik. Nyatanya, ia pulang dengan tangan kosong.
Bahkan mungkin lebih dari itu. Ia pulang membawa satu perceraian. Satu koper. Dan seporsi kekalahan yang tidak tahu harus ia letakkan di mana.
“Dipegat nang rabi.. sun keder balike, bli duwe umah arep ngeprak ning sapa.” -Keder Balike







