“Janjinya kalo sampe tanggal 15 Desember, gak disahkan, pimpinan DPR mau pada mundur ya Ben?”
Siang ini, Beno memesan nasi dengan lauk semur jengkol, rempelo, kentang balado, dan tempe goreng tepung di Warteg Putra Bahari.
Hari ini tak seperti biasanya. Beno ingin makan lebih mewah.
Bukan karena mendadak naik pangkat. Bukan pula karena mendapat bonus dari aplikasi ojol. Sejak pagi hingga siang, Beno memang hilir mudik mengantarkan orderan. Duit di kantongnya sudah penuh.
Kalau biasanya menghitung uang sambil mengelus-elus kantong, kali ini Beno cukup tersenyum melihat isinya. Setidaknya, hari ini dia bisa sedikit berdamai dengan semur jengkol.
“Yu, mangan. Dina kie pengen mangan rada enak.”
Beno duduk di kursi pojok dekat jendela. Driver ojol kawakan itu tak melihat batang hidung sohibnya.
Sapri.
Entah ke mana manusia satu itu. Biasanya, kalau Beno sudah duduk di warteg, Sapri tak perlu diundang. Hidungnya seolah memiliki fitur navigasi khusus menuju aroma makanan.
“Sapri durung mene, Yu?”
“Durung,” jawab Sawinah, pelayan warteg.
Nasi pesanan Beno disuguhkan Sawinah. Teh tawar hangat menyusul diantarkan.
Beno memandangi teh itu sebentar. Wajahnya seperti seorang pejabat yang baru saja menerima laporan penting.
“Nginume es teh manis lah. Bosen tawar anget terus.”
“Tumben. Lagi akeh duit kayane, yakin.”
Beno hanya tersenyum. Senyum orang yang merasa saldo rekeningnya sedang bersahabat.
Sedang lahap menyantap makanan, tiba-tiba Sapri datang.
Seperti biasa, Sapri datang bukan ketika makanan belum dipesan, melainkan ketika makanan sudah hampir masuk perut.
“Doa dulu kalo makan, Ben.”
“Eh kamu Pri. Pesen-pesen, aku traktir.”
“Lagi banyak duit, lu?”
“Udah pesen aja.”
“Entar aja, masih kenyang gue.”
Sapri kemudian duduk di hadapan Beno. Bukannya makan, dia malah membuka obrolan perihal demo kemarin.
Ya, demo yang digagas warga Pati itu berujung ricuh.
Pos polisi di perempatan Slipi dibakar. Banyak fasilitas umum rusak.
Sapri menggeleng-gelengkan kepala. Wajahnya menunjukkan ekspresi orang yang sudah capek melihat berita, tetapi tetap saja penasaran membuka berita berikutnya.
“Rusuh lagi, rusuh lagi!”
“Rusuh apane, Pri?”
“Demo.”
“Oh, biasalah. Kayane sengaja dibikin rusuh.”
“Kalo kayak gini, kapan Jakarta bisa rapih. Fasilitas udah bagus, abus demo rusak.”
“Lu ikut demo kemaren, Ben?”
“Nggak, kemaren meriyang. Seharian rebahan ning kontrakan.”
Jawaban Beno membuat Sapri menatapnya beberapa detik.
Beno memang punya prinsip sederhana. Kalau badan sedang tidak enak, jangan sok kuat. Apalagi kalau tidak ada uang transport untuk pulang setelah demo.
Obrolan mereka semakin mendalam. Mereka membicarakan tuntutan para pendemo: disahkannya RUU Perampasan Aset hingga diterapkannya hukuman mati bagi koruptor.
Beno yang sejak tadi fokus pada semur jengkol mulai mengangkat kepala. Sapri pun semakin serius.
“Janjinya kalo sampe tanggal 15 Desember, gak disahkan, pimpinan DPR mau pada mundur ya Ben?”
“Soal mundur sih gampan, Pri. Sing susah itu disahkannya Undang-Undang Perempasan Aset.”
“Kok susah? Kan tinggal ketok palu, sah.”
“Ya susah lah. Takut jadi senjata makan tuan.”
“Hahaha.. ati-ati lu ngomong Ben. Bisa ditangkep lu!”
Tiba-tiba, Yu Sawinah datang dan menyela obrolan ngalor-ngidul keduanya.
“Wis-wis… nggak usah ngomong politik. Bang Sapri mau makan enggak?”
“Enggak lah Yu, masih kenyang. Pesen kopi item aja, Beno yang bayar.”
Beno, menyandok santapan terakhir. Dengan penuh percaya diri, Beno meminta Yu Sawinah membuatkan dua gelas kopi hitam.
“Gawekna loro Yu. Inyong sing bayar. Sekailan utang wingi-wingi diitung.”
“Siap, bos!” jawab Yu Sawinah.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Gawat, Rekeningku Diblokir!







