Hujan turun sejak sore.

Raka berdiri di depan jendela kamar sambil memandangi jalanan yang mulai sepi. Lampu-lampu rumah tetangga memantul di aspal yang basah. Sesekali terdengar suara kendaraan melewati genangan air.

Malam itu seharusnya biasa saja.

Sampai ponselnya bergetar.

Bzzzt.

Raka mengambil ponselnya dari meja.

Satu pesan WhatsApp masuk.

Dari sebuah nomor yang sudah tidak pernah ia lihat selama dua tahun.

Nomor itu milik ibunya.

Jantung Raka seketika berdegup lebih cepat.

Ia menatap layar cukup lama.

Ibu.

Foto profilnya masih sama. Foto lama ketika ibunya tersenyum di depan kebun bunga.

Tangannya gemetar ketika membuka pesan.

Jangan pulang malam ini.

Raka mengerutkan kening.

Ia hampir tertawa karena mengira seseorang sedang mempermainkannya.

Ibunya sudah meninggal dua tahun lalu.

Nomor itu bahkan sudah tidak aktif sejak beberapa bulan setelah pemakaman.

“Siapa yang iseng begini?” gumamnya.

Raka mengetik.

Siapa ini?

Pesan itu terkirim.

Centang dua.

Raka terdiam.

Beberapa detik kemudian, tulisan sedang mengetik… muncul.

Lalu sebuah balasan masuk.

Ibu.

Raka langsung berdiri.

Ponselnya hampir terlepas dari tangan.

Ia menatap layar dengan napas tertahan.

Ibu sudah bilang, jangan pulang malam ini.

Raka mengetik dengan jari yang kaku.

Ibu sudah meninggal.

Tidak ada balasan.

Satu menit.

Dua menit.

Lima menit.

Kemudian ponselnya kembali bergetar.

Ibu tahu.

Raka merasa tengkuknya merinding.

Ia mencoba menelepon nomor tersebut.

Panggilan tersambung.

Tidak ada suara.

Hanya suara desis seperti angin yang melewati lubang kecil.

“Halo?”

Diam.

“Ibu?”

Tiba-tiba terdengar suara perempuan dari seberang.

Pelan sekali.

“Raka…”

Raka membeku.

Itu suara ibunya.

Suara yang sangat ia kenal.

Suara yang dulu membangunkannya setiap pagi.

Suara yang terakhir kali ia dengar di rumah sakit.

“Bu?”

Sambungan terputus.

Raka langsung menelepon kembali.

Nomor tersebut sudah tidak dapat dihubungi.

Ia duduk di tepi tempat tidur.

Kepalanya dipenuhi berbagai kemungkinan.

Mungkin seseorang memakai nomor lama ibunya.

Mungkin nomor itu didaur ulang oleh operator.

Mungkin ada orang yang sengaja mengerjainya.

Ya.

Pasti begitu.

Raka mencoba menenangkan dirinya.

Ia kemudian melihat jam.

23.17.

Besok pagi ia harus pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan.

Karena itulah ibunya mungkin muncul dalam pikirannya malam ini.

Setidaknya itu yang ia coba yakini.

Raka mematikan lampu dan berbaring.

Namun sebelum sempat memejamkan mata, ponselnya kembali bergetar.

Satu pesan.

Raka, dengarkan Ibu. Jangan pulang ke rumah malam ini.

Raka menghela napas.

Aku tidak sedang di rumah. Aku di apartemen.

Balasan datang hampir seketika.

Bukan rumahmu sekarang. Rumah yang dulu.

Raka terdiam.

Rumah yang dulu.

Rumah masa kecilnya.

Rumah yang telah kosong sejak ibunya meninggal.

Rumah itu berada sekitar satu jam perjalanan dari apartemennya.

Raka mencoba mengabaikannya.

Namun lima menit kemudian, pesan lain masuk.

Ada seseorang di dalam rumah.

Raka langsung duduk.

Siapa?

Tidak ada jawaban.

Bu, siapa?

Beberapa detik kemudian:

Jangan cari tahu.

Raka menatap layar.

Kemudian terdengar suara ketukan dari luar pintu apartemennya.

Tok.

Raka membeku.

Tok. Tok.

Ia perlahan turun dari tempat tidur.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Raka mendekati pintu.

Ia melihat melalui lubang kecil.

Lorong kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Ketika ia kembali ke tempat tidur, ponselnya bergetar.

Dia sudah pergi.

Raka menelan ludah.

Siapa?

Pesan berikutnya muncul.

Sekarang pulanglah.

Raka merasa bingung.

Beberapa detik lalu ibunya melarangnya pulang.

Sekarang justru menyuruhnya pulang.

Kenapa?

Balasan:

Karena besok kamu tidak akan punya kesempatan lagi.

Pukul 00.05, Raka mengendarai mobil menuju rumah masa kecilnya.

Ia tahu itu keputusan bodoh.

Tetapi rasa takut kalah oleh rasa penasaran.

Jalanan hampir kosong. Hujan mulai reda. Lampu jalan berwarna kekuningan menerangi jalan yang basah.

Sepanjang perjalanan, tidak ada pesan lagi.

Sampai ketika Raka memasuki jalan kecil menuju rumahnya.

Ponselnya berbunyi.

Jangan masuk dari pintu depan.

Raka menginjak rem.

Ia memandang rumah tua di hadapannya.

Gelap.

Tidak ada lampu.

Pagar berkarat.

Rumput liar tumbuh di halaman.

Raka turun dari mobil.

Ia berjalan menuju pintu belakang.

Kunci lama masih tersimpan di bawah pot bunga, persis seperti yang dilakukan ibunya bertahun-tahun lalu.

Pintu terbuka.

Raka masuk.

Bau rumah yang lembap langsung menyambutnya.

Ia menyalakan lampu.

Tidak menyala.

“Bagus…”

Raka menggunakan lampu ponsel.

Ruang tamu masih sama.

Sofa tua.

Lemari kayu.

Foto keluarga di dinding.

Raka mengarahkan cahaya ke salah satu foto.

Foto dirinya saat berusia tujuh tahun.

Di sampingnya ada ibunya.

Dan ayahnya.

Raka berhenti.

Ayahnya meninggal ketika ia berusia sembilan tahun.

Ia berjalan menuju kamar ibunya.

Pintu kamar sedikit terbuka.

Dari dalam terdengar suara benda jatuh.

Brak!

Raka mundur.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Ia menggenggam gagang pintu.

Kemudian ponselnya bergetar.

Pesan masuk.

Jangan buka pintu itu.

Raka menatap pintu.

Kemudian kembali ke layar.

Kenapa?

Balasan datang.

Karena itu bukan kamar Ibu.

Raka merasa darahnya berhenti mengalir.

Ia perlahan melihat nomor pengirim.

Nomor ibunya.

Kemudian dari balik pintu terdengar suara perempuan.

“Raka…”

Suara itu persis suara ibunya.

“Raka, buka pintunya.”

Air mata Raka tiba-tiba menggenang.

Ia ingin percaya.

Ingin sekali.

“Ibu?”

“Ya.”

“Apa benar Ibu?”

Hening.

Kemudian suara itu menjawab.

“Masuklah, Nak.”

Raka hampir membuka pintu.

Namun ponselnya kembali bergetar.

Jangan percaya suaranya.

Raka mundur.

Pintu kamar tiba-tiba bergetar.

BRAK!

Seseorang dari dalam membenturnya.

“Raka!”

BRAK!

“BUKA!”

Raka berlari meninggalkan rumah.

Ia tidak peduli dengan apa yang ada di dalam.

Ia berlari menuju mobil.

Namun sebelum masuk, ia melihat sesuatu di kaca jendela rumah.

Ada seorang perempuan berdiri di balik jendela lantai dua.

Perempuan itu memakai baju putih.

Rambutnya panjang.

Wajahnya tidak terlihat jelas.

Tetapi Raka mengenalinya.

Itu ibunya.

Perempuan itu mengangkat tangan.

Menunjuk ke arah belakang Raka.

Raka berbalik.

Tidak ada siapa-siapa.

Ketika kembali melihat jendela, perempuan itu sudah tidak ada.

Raka masuk ke mobil dan mengunci semua pintu.

Tangannya gemetar.

Ia langsung menelepon polisi.

Namun sebelum panggilan tersambung, sebuah pesan masuk.

Pulanglah ke apartemen.

Raka membalas.

Siapa sebenarnya kamu?

Lama tidak ada jawaban.

Kemudian:

Ibu.

Buktikan.

Pesan itu dibaca.

Beberapa saat kemudian sebuah foto masuk.

Raka membukanya.

Foto itu memperlihatkan dirinya.

Sedang duduk di dalam mobil.

Diambil dari luar.

Raka langsung menoleh ke jendela.

Tidak ada siapa-siapa.

Ia menunduk lagi melihat layar.

Kemudian foto kedua masuk.

Foto rumahnya.

Foto ketiga.

Foto kamar masa kecilnya.

Foto keempat.

Foto ibunya.

Raka menahan napas.

Foto terakhir berbeda.

Foto itu menunjukkan sebuah ruangan yang tidak pernah ia kenal.

Di dalamnya terdapat sebuah meja.

Di atas meja ada sebuah buku tua.

Raka memperbesar gambar.

Di sampul buku tertulis:

Raka — 2004.

Tahun kelahirannya.

Ponselnya bergetar.

Cari buku itu.

Raka kembali masuk ke rumah.

Ia tidak tahu kenapa.

Mungkin karena ia sudah terlalu jauh untuk mundur.

Mungkin karena bagian dari dirinya masih ingin percaya bahwa ibunya benar-benar sedang mencoba menyelamatkannya.

Ia mencari ruangan dalam foto.

Setelah hampir dua puluh menit, ia menemukannya.

Sebuah kamar kecil di belakang dapur.

Pintunya terkunci.

Kunci itu ada di dalam laci meja tua.

Raka membuka pintu.

Ruangan itu penuh debu.

Dan di atas meja…

Buku itu ada.

Raka membukanya.

Halaman pertama berisi tulisan tangan ibunya.

Kalau suatu hari Raka menemukan buku ini, berarti semuanya sudah terlambat.

Raka membalik halaman.

Aku tahu sesuatu akan terjadi pada keluarga kita.

Halaman berikutnya.

Ada seseorang yang mengikuti Raka sejak kecil.

Raka terus membaca.

Semakin jauh, semakin mengerikan isi buku itu.

Ibunya menulis bahwa setelah ayah Raka meninggal, ia mulai mendengar suara-suara dari kamar kosong.

Suara yang memanggil nama Raka.

Suara yang meniru suara orang-orang yang sudah meninggal.

Awalnya ia mengira itu hanya halusinasi.

Sampai suatu malam ia melihat sosok perempuan berdiri di halaman.

Sosok itu memiliki wajahnya sendiri.

Di halaman terakhir hanya terdapat satu kalimat.

Jika aku meninggal, jangan pernah percaya padaku jika aku kembali.

Raka menutup buku.

Ponselnya bergetar.

Pesan baru.

Sekarang kamu mengerti.

Raka mengetik:

Kamu bukan Ibu.

Tiga titik muncul.

Hilang.

Muncul lagi.

Kemudian balasan:

Bukan.

Raka menatap layar.

Pesan berikutnya masuk.

Tapi Ibu yang asli sedang berusaha menghubungimu.

Raka merasa bingung.

Di mana Ibu?

Balasan:

Di bawah rumah.

Raka menatap lantai.

Rumah tua itu memiliki ruang bawah tanah?

Setahunya tidak.

Namun ketika ia menggeser karpet tua di ruang tengah, ia menemukan sebuah pintu kayu.

Ada pegangan besi kecil.

Raka membukanya.

Tangga menuju ke bawah.

Gelap.

Bau tanah basah menyengat.

Ia turun perlahan.

Di bawah sana terdapat ruangan sempit.

Dan di sudut ruangan…

Ada sebuah kursi.

Di atas kursi itu terdapat ponsel.

Ponsel yang sangat ia kenal.

Ponsel lama milik ibunya.

Raka mendekatinya.

Layar ponsel menyala.

Ada satu pesan yang baru saja dikirim.

Dari nomor yang sama.

Raka, maafkan Ibu.

Raka menggigil.

Kemudian suara perempuan terdengar dari belakangnya.

“Raka…”

Ia menoleh.

Ibunya berdiri di tangga.

Wajahnya pucat.

Matanya penuh kesedihan.

“Bu…”

Perempuan itu tersenyum.

“Ibu sudah menunggumu.”

Raka menangis.

Ia ingin berlari memeluknya.

Namun teringat tulisan di buku.

Jangan pernah percaya padaku jika aku kembali.

Raka mundur.

Perempuan itu berhenti tersenyum.

“Kenapa?”

“Kamu bukan Ibu.”

Wajah perempuan itu perlahan berubah.

Kulitnya menghitam.

Matanya menjadi kosong.

Mulutnya terbuka terlalu lebar.

Suara yang keluar bukan lagi suara ibunya.

“Kamu seharusnya tidak datang.”

Raka berlari.

Ia menaiki tangga dan membanting pintu.

Di belakangnya terdengar jeritan.

Ia berlari menuju mobil.

Tidak menoleh lagi.

Pukul 02.13, Raka tiba di apartemen.

Ia mengunci pintu.

Mematikan semua lampu.

Duduk di lantai.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa aman.

Ponselnya bergetar.

Satu pesan.

Raka menatap layar dengan takut.

Terima kasih sudah mendengarkan Ibu.

Raka menangis lega.

Ia mengetik:

Ibu masih di sana?

Balasan:

Tidak.

Raka mengerutkan kening.

Lalu siapa kamu?

Tidak ada jawaban.

Beberapa detik kemudian, pesan lain muncul.

Ibu yang asli sudah meninggal dua tahun lalu.

Raka membeku.

Aku adalah kamu.

Raka menatap layar.

Apa?

Balasan terakhir masuk.

Aku adalah Raka dari dua tahun yang akan datang.

Raka tidak mengerti.

Sampai sebuah foto dikirim.

Foto dirinya.

Sedang duduk di lantai apartemen.

Diambil dari sudut ruangan.

Raka perlahan mengangkat kepala.

Di depan pintu kamar…

Ada seorang laki-laki berdiri.

Wajahnya sama persis dengannya.

Lebih tua.

Lebih kurus.

Dan penuh luka.

Pria itu tersenyum.

Kemudian ponsel Raka bergetar sekali lagi.

Sekarang giliranmu memperingatkan dirimu sendiri.

Di belakang Raka terdengar suara ibunya.

“Raka…”

Ia menoleh.

Dan lampu apartemen mati.

Gelap.

 

Bagikan:

Tags: