Aku cukup menunggu di sini untuk cintaku yang tertinggal di pengungsian. Cinta pertama yang bahkan belum sempat tersampaikan.

PAGI buta di Nusa Tenggara Timur. Guncangan hebat tiba-tiba membangunkanku dari tidur lelap.

Dalam hitungan detik, suasana berubah menjadi kepanikan.

Lampu padam. Jam dinding terjatuh dan pecah. Atap kamarku jebol, bahkan sebagian bangunan di atasnya mulai ambruk.

Beruntung, reruntuhan itu tidak sampai menimpa tubuhku yang masih terbaring di atas ranjang.

Suara retakan dinding terdengar jelas di telingaku. Bunyi itu membuat tubuhku seketika menegang.

Ya, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 telah mengguncang Flores Timur dengan dahsyat.

Tempat tinggalku.

Dari luar kamar, terdengar teriakan warga yang diliputi kepanikan. Suara mereka bersahutan, bercampur dengan suara benda-benda yang berjatuhan.

Aku masih terjebak di dalam kamar yang gelap gulita.

Dengan tangan gemetar, aku meraba-raba meja di samping ranjang, mencari ponsel yang biasa kutaruh di sana.

Beberapa saat kemudian, jemariku berhasil menemukannya.

Aku segera menyalakan lampu senter.

Cahaya kecil dari ponselku menyapu seluruh sudut kamar. Perabotan berserakan. Barang-barang yang sebelumnya tertata rapi kini berantakan di lantai.

Panik mulai menyergapku.

Aku langsung berteriak memanggil kedua orangtuaku.

“Bapak… Mama!”

Namun, tidak ada jawaban.

Hanya suara kepanikan dari luar rumah yang terdengar semakin jelas.

Sepertinya mereka sudah tidak ada di dalam rumah.

Aku pun bergegas keluar.

Begitu sampai di luar, aku melihat warga sudah memenuhi halaman dan jalanan. Wajah-wajah mereka tampak pucat. Sebagian masih berusaha mencari anggota keluarga masing-masing.

Di tengah kerumunan itu, mataku menemukan keluargaku.

Ibu, bapak, dan adikku.

Begitu melihatku, mereka langsung menghampiri dan memelukku erat.

Rupanya, mereka sudah berusaha membangunkanku ketika gempa terjadi. Mereka memanggil dari balik pintu kamarku. Tetapi aku sama sekali tidak mendengarnya.

Dari luar, aku menatap rumah kami.

Sebagian bangunannya telah ambruk. Dinding retak dan atap yang jebol membuat rumah itu tak mungkin lagi ditinggali.

Warga kampung kami kemudian berkumpul di sebuah tanah lapang.

Tidak ada lagi yang berani kembali ke rumah.

Siang harinya, kami mulai didata oleh petugas. Satu per satu nama warga dicatat untuk memastikan kondisi dan keberadaan mereka.

Namun, di tengah pendataan itu, kabar kehilangan terus berdatangan.

Banyak orang yang kehilangan anggota keluarganya.

Tangisan pecah di berbagai sudut. Ada yang memanggil nama orang terkasihnya, ada pula yang hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca.

Beruntung, keluargaku masih utuh.

Aku masih bisa melihat ibu, bapak, dan adikku berada di sampingku.

Kemudian, kami diungsikan ke wilayah Aesesa.

Sesampainya di sana, suasananya begitu ramai.

Ratusan orang berkumpul dengan wajah-wajah penuh kecemasan. Sebagian duduk termenung, sebagian lainnya sibuk mencari kabar keluarga.

Di tengah keramaian itu, tangisan kehilangan masih terdengar.

Dan entah mengapa, di antara kepanikan, kesedihan, serta orang-orang yang berusaha menyelamatkan hidup mereka, aku merasa ada sesuatu yang lain yang ikut tertinggal.

Sesuatu yang belum kusadari akan mengubah hidupku.

Hari pertama di pengungsian terasa panjang dan melelahkan. Kami tidur berdesakan di dalam tenda-tenda darurat yang didirikan di atas tanah lapang. Udara siang begitu panas, sementara malamnya terasa dingin menusuk tulang.

Persediaan air bersih pun terbatas.

Pagi berikutnya, aku berdiri dalam antrean panjang sambil membawa sebuah jeriken kosong. Warga berdesakan menunggu giliran. Beberapa orang tampak gelisah karena persediaan air yang datang tidak sebanding dengan jumlah pengungsi.

Ketika akhirnya tiba giliranku, petugas hanya mengisi sebagian jerikenku.

Aku menatap air itu dengan cemas. Jumlahnya tidak akan cukup untuk kebutuhan kami sekeluarga, bahkan hanya untuk mencuci muka dan membersihkan tubuh.

Saat aku hendak membawa jeriken itu pergi, seorang pemuda di belakangku tiba-tiba menyodorkan jerikennya.

“Pakai saja bagian saya,” katanya.

Aku menoleh. Pemuda itu tampak lelah. Wajahnya sedikit berkeringat, tetapi sorot matanya tenang.

“Tidak perlu. Kamu juga membutuhkannya,” jawabku.

Dia menggeleng pelan.

“Saya bisa mengantre lagi.”

Sebelum sempat menolak, dia sudah menyerahkan jerikennya kepadaku.

Aku menerimanya dengan ragu.

“Terima kasih,” ucapku lirih.

Dia hanya tersenyum, lalu kembali berdiri di barisan paling belakang.

Aku memperhatikannya beberapa saat. Dia benar-benar mengantre dari awal, tanpa mengeluh sedikit pun.

Kebaikan kecil itu terasa begitu besar bagiku.

“Namamu siapa?” tanyaku ketika dia melewatiku.

“Awang,” jawabnya singkat.

Aku mengangguk.

“Nera.”

Hanya itu perkenalan kami. Singkat, sederhana, tetapi entah mengapa terus teringat sepanjang hari.

Aku membawa jeriken air itu ke tenda. Ibu menyambutnya dengan wajah lega. Air tersebut kami gunakan seperlunya untuk mencuci muka, membersihkan tangan, dan memenuhi kebutuhan kecil lainnya.

Namun, setiap kali melihat jeriken itu, aku teringat pada Awang.

Pada senyumnya.

Pada kesediaannya mengantre kembali demi memberikan bagiannya kepadaku.

Hari ketiga di pengungsian, matahari bersinar begitu kejam. Aku keluar dari tenda karena merasa sesak berada di dalamnya terlalu lama.

Di tanah lapang, beberapa petugas BNPB dan relawan sedang mengadakan trauma healing untuk anak-anak pengungsi. Mereka mengajak anak-anak bernyanyi, bermain, dan menggambar agar sejenak melupakan ketakutan yang mereka alami.

Tawa kecil mulai terdengar di antara tenda-tenda.

Di sisi lain lapangan, beberapa truk membawa bantuan logistik. Kardus-kardus makanan, air mineral, selimut, dan perlengkapan lainnya diturunkan oleh para petugas.

Di antara mereka, aku melihat seseorang yang kukenal.

Awang.

Dia tampak sibuk membantu mengatur bantuan logistik. Keringat membasahi wajahnya. Tangannya mengangkat kardus demi kardus, sementara sesekali dia membantu petugas mengarahkan warga agar tidak berdesakan.

Aku cukup terkesima melihat keteguhannya.

Di tengah kehilangan yang mungkin juga dirasakannya, dia masih mampu membantu orang lain.

Awang melihatku. Dia tersenyum dan melambaikan tangan.

Aku menghampirinya setelah pekerjaannya sedikit longgar.

“Kamu selalu membantu di sini?” tanyaku.

“Kalau tidak membantu, saya malah bingung mau melakukan apa,” jawabnya.

Kami kemudian duduk di bawah bayang-bayang tenda. Untuk pertama kalinya, kami berbicara cukup panjang.

Awang bercerita bahwa dia kehilangan ayahnya saat gempa terjadi. Rumahnya ambruk. Saat itu, dia sedang dalam perjalanan pulang setelah bekerja shift malam.

Dia baru mengetahui kabar tersebut ketika sampai di dekat rumah. Bangunan itu sudah runtuh, dan ayahnya tidak sempat menyelamatkan diri.

Aku terdiam mendengar ceritanya.

Di mata Awang, aku melihat duka yang begitu dalam. Duka yang berusaha dia sembunyikan di balik kesibukan dan senyum sederhana.

“Aku turut berduka,” kataku pelan. “Kamu harus tetap kuat.”

Awang menunduk. Beberapa saat kemudian, dia tersenyum tipis.

“Terima kasih, Nera.”

Sejak hari itu, kami semakin sering menghabiskan waktu bersama di pengungsian.

Kami mengobrol tentang banyak hal. Tentang keluarga, pekerjaan, makanan kesukaan, dan impian-impian kecil yang terasa jauh setelah bencana merenggut rumah kami.

Kadang-kadang kami bercanda. Kadang pula kami hanya duduk berdampingan tanpa banyak bicara, menikmati angin sore yang berembus di antara tenda-tenda.

Kami juga sering membantu petugas membagikan makanan, mengangkat barang, atau menemani anak-anak bermain.

Di tengah suasana pengungsian yang penuh kesedihan, kehadiran Awang menjadi sesuatu yang membuat hari-hariku terasa lebih ringan.

Aku mulai menunggunya setiap pagi.

Mulai mencari sosoknya di antara kerumunan.

Mulai merasa kehilangan ketika dia tidak terlihat.

Mungkin itulah cinta pertama.

Ia datang tanpa suara, tumbuh di tempat yang tidak pernah kita duga, dan membuat hati menemukan alasan untuk tetap berharap.

Hari-hari berlalu. Perlahan, kondisi mulai membaik. Bantuan terus berdatangan. Beberapa jalan mulai dibersihkan. Petugas juga mengumumkan bahwa warga diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing, meskipun sebagian besar rumah hanya menyisakan kerusakan.

Hari kepulangan itu akhirnya tiba.

Aku berdiri di dekat truk tentara bersama keluargaku. Barang-barang kami telah dikemas seadanya. Tidak banyak yang bisa dibawa pulang, sebab sebagian besar telah tertinggal di antara puing-puing rumah.

Aku mencari Awang di antara tenda-tenda.

Akhirnya, aku melihatnya.

Dia berdiri tidak jauh dari tempat kami biasa duduk.

Aku menghampirinya dengan dada yang terasa berat.

“Kamu pulang hari ini?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Ya. Kata petugas, kami sudah boleh kembali.”

Awang tersenyum, tetapi senyum itu tidak mampu menyembunyikan kesedihan di matanya.

Kami bertukar nomor ponsel. Namun, jaringan internet masih belum pulih setelah gempa. Tidak ada kepastian kapan kami bisa saling menghubungi.

“Aku masih tinggal di pengungsian beberapa hari ke depan,” katanya.

Aku mengangguk, lalu menyebutkan alamat rumahku di Flores Timur.

“Kalau semuanya sudah kembali pulih, carilah aku di alamat itu.”

Awang menatapku cukup lama.

“Aku akan mencarimu,” katanya.

Aku ingin mempercayai janji itu.

Truk tentara mulai bergerak meninggalkan pengungsian. Dari balik bak truk, aku melihat Awang berdiri di pinggir jalan.

Dia melambaikan tangan.

Aku membalas lambaian itu dengan tangan gemetar.

Di tengah suara mesin truk dan riuh warga, aku mendengar suaranya yang lirih.

“Aku akan mencarimu suatu saat nanti!”

Air mataku menetes.

Aku tidak tahu apakah dia benar-benar akan datang.

Aku tidak tahu apakah perasaan yang tumbuh di antara kami akan memiliki kesempatan untuk hidup.

Yang kutahu, sebagian hatiku tertinggal di tempat itu.

Di antara tenda-tenda pengungsian, jeriken air bersih, dan senyum seorang pemuda bernama Awang.

Seminggu berlalu.

Aku masih menunggu kabar darinya.

Pesan dan telepon yang kukirimkan tidak pernah tersampaikan. Sinyal internet masih belum normal. Setiap kali ponselku bergetar, aku selalu berharap namanya muncul di layar.

Namun, harapan itu kembali sunyi.

Aku sering berdiri di depan rumah yang telah rusak, memandang jalan yang sepi. Barangkali Awang akan datang dari sana. Barangkali dia akan muncul dengan senyum sederhana seperti saat pertama kali kami bertemu.

Tetapi hari-hari terus berlalu.

Tidak ada kabar.

Tidak ada pesan.

Tidak ada kepastian.

Ingin rasanya aku menyusup ke pengungsian untuk memastikan keberadaannya. Tapi itu akan terasa sangat sulit.

Jarak pengungsian yang cukup jauh dari rumahku, ditambah akses jalan yang rusak akibat gempa, membuat semuanya terasa tidak mungkin.

Aku cukup menunggu di sini untuk cintaku yang tertinggal di pengungsian.

Cinta pertama yang bahkan belum sempat tersampaikan.

Entah sampai kapan?

Rakai Daniswara

Pria sederhana yang memiliki pemikiran rumit. Ide-idenya melebihi kapasitas kepalanya.

Bagikan:

Tags: