Masa remajaku tak berjalan indah. Aku ingin seperti gadis-gadis lainnya. Bisa menikmati masa muda dengan segala kenakalannya.

AKU Danisa, gadis berusia enam belas tahun yang terpaksa putus sekolah. Setiap hari, aku membantu ibuku yang telah menjadi janda sejak bercerai dengan ayah.

Mereka berpisah ketika aku duduk di kelas empat sekolah dasar. Saat itu, adikku masih berusia balita.

Dengan susah payah, ibu membesarkan kami seorang diri. Kadang ia bekerja sebagai buruh cuci. Kadang pula ia memulung sampah sambil mendorong gerobak.

Kami sering diajak ibu memulung.

Saat itu, aku merasa bahagia karena bisa berkeliling kota dengan menaiki gerobak.

Panas terik dan polusi, seperti sejuk saja.

Setelah usiaku bertambah, aku memutuskan berhenti sekolah. Aku ingin membantu ibu mencari uang.

Kami pun berbagi tugas. Aku menjadi buruh cuci, sementara ibu menjadi manusia gerobak.

Adikku kini sudah duduk di kelas tiga sekolah dasar. Aku bertekad menyekolahkan adikku hingga jenjang SMA.

Biarlah aku saja yang putus sekolah.

Masa remajaku tak berjalan indah. Aku ingin seperti gadis-gadis lainnya. Bisa menikmati masa muda dengan segala kenakalannya.

Hingga datang seorang pria yang menyatakan cinta kepadaku. Hidupku sedikit lebih berwarna. Aku sering berjalan dengannya hingga lupa pada pekerjaan.

Ibu sering memarahiku dengan kata-kata kasar yang terkadang terasa begitu menyakitkan. Hingga akhirnya, aku merasa muak dengan semuanya. Aku memutuskan pergi dari rumah.

Aku memilih hidup bersama pacarku tanpa ikatan pernikahan. Kami tinggal di sebuah permukiman di kolong jembatan Pasar Ikan.

Setiap hari ia mengamen dengan ukulele. Penghasilannya tidak banyak, tetapi cukup untuk makan kami berdua.

Aku pikir, mungkin inilah kebahagiaanku.

Mungkin beginilah caranya aku menemukan kehidupan yang selama ini kuinginkan.

Namun, satu hal tidak pernah bisa kulupakan.

Adikku.

Aku tetap ingin membantu biaya sekolahnya.

Karena itu, aku harus tetap bekerja.

Kadang aku membayangkan memiliki pekerjaan seperti orang-orang pada umumnya.

Bekerja di sebuah perusahaan.

Mengenakan pakaian rapi.

Menerima gaji setiap bulan.

Pulang dengan tenang.

Tapi hidupku tak seperti orang pada umumnya.

Aku putus sekolah.

Aku tidak punya ijazah.

Aku tidak punya pilihan.

Terpaksa, aku mengais rezeki dengan menjadi manusia silver di perempatan Sunter tempat pacarku mengamen.

Tubuhku kulumuri cat silver. Setiap kali lampu lalu lintas berubah merah, aku berdiri di antara kendaraan-kendaraan yang berhenti.

Aku mematung.

Pundi-pundi rupiah yang kudapat setiap hari kusisihkan untuk adikku.

Setiap pagi atau siang, aku menyempatkan diri datang ke sekolahnya untuk memberinya uang jajan.

Tidak banyak memang.

Tak lebih dari sepuluh ribu rupiah per hari.

Siang itu matahari terasa begitu kejam.

Panas menyengat tubuhku yang telah dilapisi cat silver.

Sejak pagi, tubuhku terasa kurang sehat. Kepala terasa berat dan tenaga seperti terkuras.

Keringat dingin membasahi tubuh. Cat silver mulai memudar.

Pacarku menyadarinya. Dia memintaku untuk istirahat di rumah.

Aku menggelengkan kepala.

Aku tidak ingin pulang tanpa membawa apa-apa.

Lalu lintas siang itu cukup ramai. Lampu lalu lintas berganti warna menjadi merah.

Aku kembali mematung di antara kepadatan kendaraan. Sementara itu, pacarku mulai menggenjreng ukulele. Nada yang keluar terdengar sumbang.

Seketika, sebelum lampu merah berganti warna, aku mendengar suara peluit.

“Priiiiiitttt…..”

Aku disergap petugas Dinas Sosial dan Satpol PP. Sementara itu, pacarku berhasil melarikan diri dari sergapan petugas bertubuh tegap.

Pria yang selama ini kuanggap sebagai pelindung ternyata kabur meninggalkanku.

Aku kecewa!

Aku terus memanggil namanya.

Dia tak sedikit pun menoleh kepadaku.

Aku mencoba memberontak. Namun, tubuhku terlalu lemah.

Aku berteriak!

Aku menangis!

Aku ditarik paksa naik ke mobil bak terbuka milik petugas.

Ember berisi uang receh pun disita.

Aku terus meronta.

Kali ini nama yang aku panggil bukan nama pacarku.

Tetapi, ibu.

Aku dibawa ke kantor Dinas Sosial untuk didata.

Petugas bertanya tentang orangtuaku.

Aku menjawab apa adanya.

Petugas meminta orangtuaku datang sebagai penjamin.

Jika tidak, aku akan dimasukkan ke panti sosial untuk mendapatkan pembinaan.

Aku malu untuk meminta pertolongan kepada ibu.

Aku pun memberikan nomor ponselnya kepada petugas.

Ibu datang bersama adikku.

Seketika, aku menangis sambil memeluk tubuhnya erat-erat. Cat silver yang lembap bercampur keringat sampai mengotori pakaiannya.

Aku memohon maaf atas segala kesalahan yang telah kulakukan.

Aku berjanji untuk berubah dan tidak akan mengecewakannya lagi.

Ibu juga menangis.

Adikku pun demikian.

Kami bertiga berpelukan.

Kami kembali bersatu sebagai sebuah keluarga.

Keluarga tanpa seorang ayah.

Rakai Daniswara

Pria sederhana yang memiliki pemikiran rumit. Ide-idenya melebihi kapasitas kepalanya.

Bagikan:

Tags: